• Selama tiga kali pasaran terakhir, harga penjualan sapi di Pasar Hewan Sunggingan, Boyolali mengalami penurunan Rp 500.000 – Rp1 juta tiap ekor.
  • Revitalisasi Umbul Tirtomulyo di Dusun Umbul, Kemasan, Sawit, Boyolali, tahap pertama sudah berjalan 60%.
  • Sebanyak 10 orang siswa dari OSIS SMK Ganesha Tama dan SMK Muhammadiyah 4 mengadakan kerja bakti membersihkan coretan di dinding bagian depan Taman Sono Kridanggo dan BPD Boyolali.
  • Menghadapi musim penghujan yang intensitasnya mulai tinggi, BPBD Boyolali melakukan pemetaan daerah rawan bencana alam.
Tampilkan postingan dengan label selo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label selo. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Desember 2012

Hari Ibu, Wanita Petani Sayur Njoget Tarian Lelaki

Peringati Hari Ibu, para Ibu di lereng Merapi menari
Topeng Ireng.
Puluhan kaum wanita yang notebene petani sayuran ramai-ramai menarikan tarian yang biasa dibawakan kaum lelaki, Jumat (21/12). Acara ini sengaja digelar dalam rangka memperingati Hari Ibu di lereng Gunung Merapi. Meski sangat canggung dan susah mengikuti tiap gerakan, namun mereka tampak antusias menarikannya.
Ada dua tarian yang sengaja ditarikan dalam rangka memperingati Hari Ibu di Lereng Merapi, yaitu Topeng Ireng dan Turonggo Seto. Kedua tarian ini merupakan tarian khas masyarakat Lereng Merapi Merbabu yang biasa ditarikan kaum lelaki. Baru kali ini, tarian yang bercerita tentang keprajuritan ditarikan kaum wanita.
“Sulit sekali gerakannya, satu bulan kita latihan, biasanya cuma melihat saja,tapi kini baru merasakan,ternyata susah juga,” ungkap Sumi, salah satu petani yang ikut menari.
Meski agak asing, tak urung pentas tari dalam rangka Hari Ibu yang digelar di Balai Desa Senden, Selo ini menarik ratusan penonton. Penonton yang sebagian besar masyarakat sekitar mengaku ikut terhibur dengan atraksi tari yang ditarikan ibu-ibu yang sehari-hari bekerja sebagai petani sayuran.
“Ternyata tidak hanya bisa menanam sayuran saja, mereka juga mahir menari,” celetuk salah satu penonton.
Kegiatan ini juga sekaligus menunjukkan betapa besarnya peran ibu dalam keluarga. Meski hanya bekerja sebagai petani, yang mana setiap hari hanya bergelut dengan sayuran dan ladang,kaum ibu ini juga bisa berpartisipasi dalam bidang budaya.

Sumber: timlo.net


Selanjutnya...

Sabtu, 17 November 2012

Ini Dia, Peta Daerah Rawan Bencana di Boyolali

Tanah longsor. (Ilustrasi, foto: Google)
Menghadapi musim penghujan yang intensitasnya mulai tinggi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali melakukan pemetaan daerah rawan bencana alam seperti banjir dan longsor. Pemetaan dilakukan sebagai antisipasi meminimalkan dan kesiapan dalam menghadapi bencana.
Kepala BKBD Boyolali, Suyitno, mengakui pemetaan kerawanan bencana terus dilakukan mengingat makin tingginya intensitas hujan di wilayah Kota Susu. Beberapa kerawanan bencana yang patut diwaspadai khususnya saat musim penghujan adalah banjir, angin dan longsor. Diakui, khusus untuk tanah longsor kewaspadaan tetap di lereng Gunung Merapi dan Merbabu.
“Longsor tetap di lereng Merapi dan Merbabu, ibaratnya sudah menjadi langganan,” ungkapnya, Sabtu (17/11).
Menghadapi musim hujan tahun ini, diakui Suyitno, pihaknya sudah siap menghadapi bencana karena persiapan yang dilakukan sudah matang. Untuk pemetaan daerah bencana sendiri, seperti erupsi Merapi, banjir lahar dingin, banjir dan tanah longsor sudah dilakukan jauh hari. Beberapa wilayah yang patut diwaspadai terutama untuk bencaa banjir lahar dingin adalah Selo, Cepogo dan Musuk.
Sementara untuk banjir meliputi wilayah Banyudono, Sawit, Teras, Ngemplak, Juwangi dan Nogosari. Sedangkan untuk tanah longsor meliputi Selo, Ampel, Cepogo, Musuk, Simo, Klego dan Sambi. Wilayah-wilayah tersebut akan mendapat perhatian yang serius. Pihaknya juga terus melakukan sosialisasi ke masyarakat agar lebih waspada. Pemkab juga sudah melakukan kerjasama dengan jajaran TNI dan SAR.

Sumber: timlo.net


Selanjutnya...

Sabtu, 03 November 2012

Kharakter Merapi Berubah, Warga Perlu Tahu

Gunung Merapi dari Pasar Selo
Berubahnya Gunung Merapi pasca letusan tahun 2010 harus segera disosialisasikan ke masyakat sekitar. Pasalnya, bila perubahan kharakter Merapi ini tidak segera disosialisasikan segera akan menjadi bencana besar bila Merapi meletus. Selama ini masyarakat di lereng Merapi menghafal bila terjadi letusan,yaitu dengan ditandai erupsi.
Relawan Jaringan Lingkar (Jalin) Merapi, Mujianto mengatakan, perubahan kharakter pada Merapi sudah mulai dirasakan sejak tahun 2011 lalu, atau setahun setelah erupsi. Perubahan tersebut semakin kentara dengan hilangnya puncak Merapi akibat longsor. Perubahan yang terjadi dimana saat ini Merapi lebih sering mengeluarkan embusan atau asap Sulfatara. Embusan yang terjadi ini diakibatkan puncak Merapi saat berbentuk seperti topi.
“Masyarakat harus segera tahu perubahan kharakter Merapi, kondisi sekarang lebih sering mengeluarkan asap atau embusan, itu harus disosialisasikan ke masyarakat di lereng Merapi biar mereka tidak khawatir,” ungkap Mujiyanto, Sabtu (3/11).
Meski sering mengeluarkan embusan, kondisi tersebut justru dinilai aman. Pasalnya gas magma dari perut Merapi bisa keluar dan sehingga energinya tidak besar. Beda halnya bila asap tidak keluar, maka akan menyimpan energi yang besar dan membahayakan karena bisa terjadi letusan.
Diakui Muji, hingga saat ini belum ada sosialisasi ke masyarakat di lereng Merapi terkait perubahan kharakter oleh pemerintah daerah. ”Sama sekali belum tersosialisasikan,” tandasnya.


Sumber: timlo.net


Selanjutnya...

Sabtu, 14 Juli 2012

Tenongan untuk Nyadran Berganti Infak


Tradisi Nyadran masyarakat lereng Gunung Merapi dan Merbabu sudah lama dilakukan nenek moyang mereka. Tradisi ini tidak hanya dilakukan kalangan sepuh. Generasi mudapun ikut andil dalam melestarikan tradisi ini.
Seperti di Dukuh Kuncen Desa Samiran Selo yang berjarak 4 kilo dari Puncak Merapi. Awalnya Nyadran ini digelar pada 1954 dan hanya diikuti 8 kepala keluarga. Namun, sekarang setidaknya terdapat 234 kepala keluarga yang ikut nyengkuyung tradisi ini.
“Sekarang hampir semua warga di dusun sini ikut andil tanpa terkecuali, bahkan yang sedang merantau menyempatkan diri untuk pulang,” ujar Sunardi, warga Kuncen, Jumat (13/7).
Nyadran sendiri dimulai dengan membersihkan pemakaman umum  kampung setempat. Setelah itu, warga mulai berdatangan sambil membawa tenong atau wadah yang di dalamnya berisi aneka makanan. Setelah diadakan Tahlil dan doa bersama, barulah mereka menikmati makanan yang mereka bawa. Semua yang hadir bebas menikmati makanan tersebut.
Uniknya lagi, seiring dengan perkembangan jaman, warga yang luar yang punya ahli waris di makamkan di dusun Kuncen, mengganti tenongan dengan uang infak. Besarnya uang disesuaikan dengan nilai makanan dalam tenongan.
Usai dari makam, Nyadran kemudian dilanjutkan dengan melakukan anjangsana ke rumah-rumah tetangga. Berbagai aneka makanan disajikan, tiap tamu yang hadir diwajibkan menyantap makanan yang dihidangkan.
“Yang kita datangi kan banyak,ya kita makanya sedikit-sedikit,wah kalau tidak,perut tidak muat,” ungkap Heri tertawa.

Sumber: timlo.net


Selanjutnya...

Minggu, 24 Juni 2012

Liburan, Jumlah Pendaki Gunung Merapi Melonjak


Jumlah pendaki Gunung Merapi melalui jalur Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada musim liburan sekolah kali ini cenderung meningkat.
"Jumlah pendaki ke Merapi sepekan ini, rata-rata sekitar 10 orang per hari dan puncaknya Sabtu malam Minggu bisa mencapai 100 orang lebih," kata anggota Tim SAR "Barameru" Desa Lencoh Samsuri di Boyolali, Sabtu (23/6).
Sebelum liburan, kata Samsuri, pendaki ke puncak Merapi sekitar 30-40 orang dalam sepekan. Sedangkan pada musim liburan sekolah bisa sekitar 150 orang per pekan.
"Pendaki hari-hari pada biasa tidak semua ada pendakian, paling hanya setiap Sabtu malam. Namun, pendaki musim liburan sekolah ini hampir setiap hari ada kegiatan pendakian ke puncak Merapi," katanya.
Ia mengatakan, para pendaki datang dari berbagai daerah. Mereka kebanyakan siswa sekolah atau mahasiswa dari Yogyakarta, Solo, Semarang, Bandung, dan daerah Jawa Barat lainnya.
Bahkan, pendaki ke Merapi juga ada dari kalangan warga mancanegara antara lain Prancis, Belanda, dan Swedia. Mereka ke puncak Merapi biasanya didampingi oleh pemandu lokal.
"Pendaki mancanegara ke Merapi sekitar dua hingga empat orang setiap harinya," katanya.
Setiap pendaki yang akan ke puncak Merapi wajib mendaftarkan identitasnya kepada petugas jaga di pintu pendakian di Dukuh Plalangan, Lencoh. Hal itu agar memudahkan petugas atau tim SAR memantau kegiatan mereka.
Pihaknya mengimbau para pendaki untuk menyiapkan alat dan perbekalaan yang dibutuhkan secukupnya seperti jaket tebal supaya tidak kedinginan. Selain itu, katanya, pendaki dilarang membuat api unggun di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) karena rawan kebakaran.
Menyinggung masalah tidak adanya rambu di jalur pendakian Merapi, kata dia, pihaknya akan meminta kepada Balai TNGM untuk pengadaan rambu dan larangan di jalur pendakian.
"Rambu-rambu di jalur pendakian, memang dapat mengantisipasi para pendaki agar tidak tersesat, karena jalur ke puncak banyak jalan alternatif yang sering digunakan oleh para pendaki," katanya.
Kepala Polsek Selo AKP Suparma saat dikonfirmasi soal jumlah pendaki pada musim liburan sekolah, membenarkan terjadi peningkatan. Mereka, katanya, sebelum mendaki Merapi, meminta izin dan memberikan identitasnya kepada polsek setempat.
Meski kondisi cuaca di puncak Merapi pada musim liburan sekolah ini cukup bersahabat untuk aktivitas pendakian, pihaknya mengimbau para pendaki tetap waspada.
Karena, katanya, puncak Merapi khususnya saat kemarau sering ditandai angin kencang dan suhu kadang sangat dingin.




Selanjutnya...

Kamis, 14 Juni 2012

4 Kali Diterjang Banjir, Proyek Jembatan Terhambat


Pembangunan jembatan Sepi.
Pembangunan Jembatan Sepi, Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Boyolali yang merupakan tahap lanjutan pembangunan infrastruktur di lereng Gunung Merapi mulai dilakukan. Sayangnya, pembangunan ini terkendala dengan cuaca yang tidak menentu di puncak Merapi. Salah satunya adalah hujan yang mengakibatkan banjir.


Sejauh ini, pembangunan yang dimulai dua minggu lalu sudah empat kali diterjang banjir. Akibatnya, pembangunan jembatan yang menghubungkan Dusun Bakalan dan Sumber tersebut terpaksa dihentikan sementara sambil menunggu kondisi memungkinkan.
“Sudah empat kali diterjang banjir, ya kita hentikan pekerjaanya, besoknya baru kita kerjakan lagi,” ungkap Ngadiyo, salah satu pekerja jembatan di lokasi, Kamis (14/6).
Pembangunan Jembatan Sepi sendiri berada di bawah jembatan Gantung Sepi. Jembatan yang dibangun dengan biaya dari pusat sebesar Rp 706 juta nantinya diperuntukkan bagi angkutan dengan muatan banyak.
”Kalau lewat di Jembatan Gantung kapasitasnya dibatasi 3 ton, padahal banyak mobo, sayur dan batu yang muatanya lebih,kasihan kalau harus melintas memutar dengan jarak lebih jauh,” ungkap Kades Jrakah, Tumar.
Untuk tahap rekonstruksi sendiri, Pemkab Boyolali mendapat kucuran dana dari pusat sebesar Rp 31 miliiar. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan infrastruktur seperti jembatan dan jalan sebesar Rp 17 miliiar sedang sisanya digunakan untuk pembangunan berbagai bidang seperti pendidikan, ekonomi dan pertanian.

Sumber: timlo.net


Selanjutnya...

Minggu, 03 Juni 2012

Ikon Kota Susu di Boyolali Mulai Pudar

Anggota DPRD minum susu sapi segar bersama.
Anda suka susu? Bicara tentang susu, tentu tidak akan lepas dari predikat kota yang terletak di lereng Merapi, Boyolali. Sebutan tersebut hampir dikenal dimanapun dan menjadi ciri khas Boyolali. Bahkan sampai dibikin lagu “Susu Boyolali” yang menjadikan semakin tenar.
Sayangnya, perkembangan sapi perah sebagai penghasil susu, belakangan ini mulai menurun. Penurunan produksi susu sapi disebabkan banyaknya peternak sapi perah yang pindah haluan memilih beternak sapi daging. Kondisi ini disebabkan beberapa faktor, diantaranya mahalnya biaya pakan dan kwalitas susu yang rendah.
Kondisi tersebut menjadi keprihatinan di DPRD Boyolali. Bila dibiarkan, ikon Boyolali sebagai Kota Susu bisa hilang. ”Sayang sekali kan bila itu hilang, kita mencoba melakukan gebrakan dengan mengumpulkan peternak sapi perah untuk mengeliatkan kembali peternakan sapi perah di Boyolali,” ungkap Wakil Pimpinan Dewan, Turisti Hindriya, Sabtu (2/6) saat mengumpulkan puluhan peternak sapi perah.
Puluhan sapi peternak yang dikumpulkan untuk sementara berasal dari 5 kecamatan penghasil susu sapi, Mojosongo, Cepogo, Selo, Boyolali Kota, dan Musuk. Dalam kesempatan tersebut, peternak mengeluhkan berbagai kendala yang dihadapi saat ini. Seperti masalah mahalnya harga pakan, susu sapi yang selalu ditolak KUD karena kwalitas jelek dan harga susu yang rendah. Padahal produksi susu segar yang disetorkan melalui KUD ke industri pegolahan susu cukup besar, sekitar 200.000 liter per hari. Saat ini harga jual susu segar dari peternak ke KUD berkisar Rp 3.500 per liter.
“Selama ini kita sering diombang ambingkan harga susu, pakan juga, padahal kwalitas susu sangat tergantung juga dengan pakan yang kita berikan,” ungkap Sarwoto, peternak sapi perah asal Cepogo.


Sebagian besar peternak memakai bekatul, konsentrat, dan singkong (yang harganya terus naik) untuk pakan ternak sapinya. Kondisi ini diperparah pada musim kemarau. Para peternak harus mendapatkan pakan rumput dengan cara beli, bahkan air bersih untuk minum sapi juga harus beli.

Sumber: timlo.net


Selanjutnya...

Sabtu, 28 April 2012

Bupati Resmikan Jembatan Gantung Di Kecamatan Selo

Bupati Boyolali Drs. Seno Samodro meresmikan penggunaan tiga buah jembatan gantung dan satu buah permanen di Kecamatan Selo Boyolali. Peresmian ini menyusul telah selesainya pembangunan jembatan gantung Sepi, Kajor dan Ladon di Desa Jrakah, Kecamatan Selo, melalui dana Badan Nasional Penaggulangan Bencana ( BNPB ), Saptu,28/4/2012.
 
Peresmian yang dipusatkan di Dk Sepi Desa Jrakah Selon, Bupati Boyolali bersama – sama perwakilan Pejabat PU Pusat dan BNPB mencanangkan penanaman pohon penghijauan di sekitar sungai dan jembatan yang diresmikan, diharapkan disamping untuk tameng erosi akibat banjir juga bermanfaat untuk penghijauan.

Sebagaimana diketahui jembatan ini dibangun kembali dikarenakan jembatan lama mengalami kerusakan / hanyut sebagai dampak eruspsi Merapi pada tahun 2010. Bupati Boyolali menyampaikan “ dengan diresmikannya tiga jembatan ini, maka tranportasi dan mobilitas penduduk yang melaui jembatan tersebut lancar kembali, serta   mendukung kemajuan roda perekonomian masyarakat terutama untuk angkutan hasil bumi dari daerah lereng merapi yang terkenal dengan hasil sayur – mayur”. Bupati Boyolali berpesan” agar jembatan ini dimanfaatkan dengan sebaik- baiknya, jangan melebihi tonase maksimal yang diprasaratkan, sehingga awet dan umur penggunaannya menjadi lama”.


 Menurut Asisten II Sekda Kab. Boyolali Ir. Juwaris, masih ada dua jembatan Gantung di Windu, Desa Klakah serta Takeran, Desa Tlogolele yang sampai saat ini masih dikebut pengerjaanya”. Dijelaskan pula oleh Ir. Juwaris, setelah proyek pembangunan jembatan gantung ini akan disambung dengan adanya rekonstruksi. Pemkab Boyolali mendapatkan dana sebesar Rp32miliar untuk sejumlah kegiatan rehab rekonstruksi. Antara lain, proyek pembangunan jembatan permanen serta pengadaan benih bagi masyarakat yang terkena dampak erupsi Merapi. “Rehab rekonstuksi  juga akan dilaksanakan tahun ini. Banyak sekali kegiatan perbaikan terutama di sejumlah infrastruktur yang terkena erupsi Merapi dua tahun lalu,” tambahnya. Juwaris memaparkan salah satu rehab rekon bakal memperbaiki jembatan permanen di Dukuh Sepi Jrakah. Pasalnya, jalur ini untuk lalu lintas kendaraan sayur-mayur. Sebab, tidak memungkinkan mobil sayur melewati jembatan gantung yang kapasitas tonasenya terbatas.
 
Sementara itu, Kepala Pelaksana Proyek PT Amarta Karya, Yusanto menegaskan untuk kendaraan yang melebihi tonase diminta tidak melewati jembatan gantung. Menurutnya, aturan batas maksimal 3 ton harus dipatuhi jika ingin umur jembatan gantung ini lama. “Di samping itu, harus ada pengecekan rutin untuk mengetahui kondisi jembatan. Jika ada yang rusak bisa segera diperbaiki untuk keberlangsungan ke depannya nanti,” pungkasnya.





Selanjutnya...

64 Jenis Kesenian Berkembang di Merapi-Merbabu

Perkembangan kesenian di Kecamatan Selo patut mendapat acungan jempol. Dari waktu ke waktu, jumlah kelompok seni di kecamatan yang berada di lereng Gunung Merapi-Merbabu terus bertambah. Tidak hanya perkembangan yang pesat, namun regenerasinya juga berkembang dengan baik.

Dari data di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Boyolali, tercatat ada 64 jenis kesenian yang tumbuh berkembang di lereng Merapi Merbabu. Ada berbagai macam jenis kesenian yang ada, mulai dari bentuk tarian hingga keprajuritan. Tarian Keprajuritan paling mendominasi di masyarakat Merapi Merbabu.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Boyolali, Sugianto, mengungkapkan pihaknya terus melakukan monitoring terhadap perkembangan kesenian di Selo. Tidak hanya itu, dinas juga membuat terobosan baru dengan membuatkan lifleat, buku dan CD dalam mempromosikan kesenian di Boyolali, khususnya di Selo.

Salah satu upaya yang saat ini sedang digarap adalah dalam rangka sosialisasi sapta pesona. Dalam hal ini, dinas melakukan pendekatan berbagai unsur wisata di Selo, seperti kelompok seni, homestay. “Kami coba ajak mereka untuk satu kata dalam pengembangan kesenian di Boyolali, masih banyak hal yang harus kita benahi,biar semua kelompok seni dapat terwadahi dengan baik,” ungkapnya, Sabtu ( 28/4).

Berbagai jenis tarian yang saat ini berkembang di Selo seperti Turonggo Seto, Topeng Ireng dan Tari Keprajuritan. hanya saja banyak pihak yang menilai gerakan tarian berbagai kelompok hampir mirip dan masih kurangnya kreasi.



Sumber: timlo.net


Selanjutnya...

Senin, 16 April 2012

Jembatan Miliaran Rupiah, Umurnya Cuma 4 Tahun

Tahukah Anda, lima jembatan gantung yang dibangun dengan dana miliaran rupiah di lereng Gunung Merapi, Kecamatan Selo, Boyolali ternyata umur penggunaannya secara teknis hanya untuk empat tahun. Untuk itu, pihak pengelola mengajak masyarakat untuk merawat dan memelihanrnya.

Masyarakat di lereng Merapi diharapkan ikut memelihara keberlangsungan jembatan gantung. Meski jembatan tersebut dibangun dengan anggaran dari pusat, tapi keberadaanya sangat menguntungkan bagi warga lereng merapi.

Kepala Operasi PT Amarta Karya, selaku pelaksana pembangunan jembatan, Yusanto, mengakui hal tersebut. Namun dijelaskan juga, bila jembatan dirawat dan dipelihara dengan baik maka bukan tidk mungkin umur bisa berlangsung lama.”Kita contohkan jembatan gantung di Aceh yang dibangun antara tahun 90an, karena dirawat dengan baik, hingga kini jembatan tersebut masih berfungsi dengan baik,” tandasnya, Senin (16/4).



Setelah difungsikan, nantinya tidak semua mobil bisa melintasi jembatan gantung yang memiliki lebar 2,85 meter. Mobil yang melintas akan dibatasi dengan beban maksimal 3 ton. Lebih dari itu harus melintas di bawah jembatan. Selain itu, semua jenis truk juga dilarang melintasi jembatan.

Lima jembatan gantung di wilayah lereng Merapi, Selo meliputi jembatan gantung Sepi panjang 96 m tinggi 75 meter, jembatan gantung Ladon panjang 75 meter tinggi 40 meter, jembatan gantung Windu panjang 120 meter tinggi 60 meter, jembatan gantung kajor Panjang 90 meter tinggi 50 meter dan jembatan gantung Takeran panjang 36 meter dan tinggi 55 meter.






Selanjutnya...

Jumat, 13 April 2012

CCTV Dipasang, Banjir dan Longsor di Merapi Terpantau

Longsor dan banjir di daerah rawan bencana Merapi dapat terpantau melalui circuit cable televison (CCTV). CCTV ini terhubung di sejumlah titik pengamatan yang ada di wilayah Merapi. Pemantauan bencana di Merapi dapat dipantau di Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

Titik pengamatan dipasang di puluhan titik wilayah bencana Merapi, terutama di alur sungai yang berhulu di Merapi. Segala aktivitas bencana baik itu banjir lahar dingin maupun longsor dapat termonitor di layar monitor yang terpasang. Untuk wilayah Boyolali, CCTV dipasang di alur Sungai Klampahan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Hasanudin, mengakui dengan adanya CCTV didaerah bencana Merapi akan memudahkan pihaknya melakukan pemantauan di daerah bencana. “Kami akan mudah melakukan pemantauan bila terjadi bencana dan akan mudah untuk melakukan antisipasi,” ungkap Hasanudin.

Selain memantau sejumlah titik rawan banjir lahar dingin, CCTV juga dapat memantau merapi melalui seismograf secara online. Sehingga bisa difungsikan sebagai early warning system atau peringatan dini.


Sumber: timlo.net
Selanjutnya...

Selasa, 03 April 2012

Gardu Pandang New Selo: 2 Gunung Tak Harus Didaki Lho..

Potensi pemandangan alam yang indah di kawasan obyek wisata Arga Merapi-Merbabu tak harus dinikmati dengan mendaki dua gunung tersebut. Namun, pemandangan alamnya bisa dinikmati di Gardu Pandang New Selo. Gardu Pandang ini tepat membelah di bawah kaki Gunung Merapi dan dari sini bisa menikmati indahnya Gunung Merbabu.


Yaah. tidaklah sulit mencapai lokasi Gardu Pandang New Selo. Dari kota Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, hanya berjarak dua kilometer. Meski jalan menuju ke lokasi naik, namun hanya satu tanjakan yang terlalu tinggi. Tapi jangan khawatir, kendaraan roda dua maupun empat bisa dengan mudah mencapai lokasi.


Di New Selo,  selain bisa menikmati sejuknya udara pegunungan juga bisa melihat secara langsung megahnya Gunung Merbabu. Selain itu, bila malam menjelang, perkampungan penduduk dengan kerlip-kerlip lampu malamnya juga tampak di Gardu Pandang ini. Di lokasi ini juga dilengkapi dengan kios-kios makanan yang berjejer dan halaman parkir yang luas.


“Dulu kami tahunya kalau ke Merapi harus mendaki, ternyata pemandangan alamnya juga bisa dinikmati dari Gardu Pandang New Selo,” ungkap Ambarwati, salah satu pelancong asal Solo. Biasanya para pelancong memilih datang ke New Selo dengan mengendarai sepeda motor. Alasannya, mereka bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat pegunungan di sepanjang jalan menuju ke obyek wisata.


Obyek wisata yang dibangun Pemkab Boyolali pada 2004 ini banyak dikunjungi pelancong setiap Minggu dan hari libur sekolah. Karena memang kebanyakan pengunjungnya adalah anak-anak muda. Nah, kalau Anda jenuh dengan polusi di kota, tidak ada salahnya berkunjung ke New Selo. Menikmati dua gunung tersebut, memang tak harus didaki.






Sumber: timlo.net








Selanjutnya...

Jumat, 24 Februari 2012

Ke Selo, Ojo Lali Cicipi Jadah Khas Nggunung







Pesona alam Merapi-Merbabu sampai kapan pun tetap akan menjadi idola bagi wisatawan. Keindahan alamnya menjadi daya tarik tersendiri. Namun bila berkunjung lereng dua gunung tersebut,  Selo, Kabupaten Boyolali, jangan lupa untuk menikmati makanan khas masyarakat nggunung, jadah ragi manis plus tempe bacem.

Hawa dingin pegunungan terasa menusuk tulang belulang. Namun dinginya Merapi akan sirna tatkala di depan mata terhidang jadah khas Selo. Hemmmmmm… selain gurih, jadah khas Selo ini paling enak dinikmati dengan teh kampul. Pokoknya nyamleng…

Salah satu warung jadah yang sudah terkenal adalah milik Mbah Jadah Waginem. Di usianya ke 87 tahun tersebut, Mbah Jadah Waginem merupakan generasi ke tiga. Usaha keluarga turun temurun ini menurut keterangan Mbah Jadah sudah berusia hampir 300 tahun. ”Wah ini sudah lama sekali, turun temurun, saya sendiri sudah menekuni sejak 75 tahun lalu,” papah Mbah Jadah yang masih tetap energik, baru-baru ini.

Untuk mempertahankan pelangganya, Mbah Jadah mempunyai kiat khusus dalam mempertahankan rasa. Salah satunya adalah memilih kelapa dengan kualitas terbaik dan pemilihan beras ketan yang bagus. ”Semua bahan yang kita gunakan kualitasnya terbaik. Jadah buatan kita ini bisa bertahan selama seminggu,” ungkapnya sambil melayani pembeli.


Selain cita rasa, untuk menarik pelanggan, jadah pulen ini dinikmati dengan ragi manis yang terbuat dari parutan kelapa yang dimasak dengan cita rasa manis dan tempe bacem. Satu potong jadah dijual Rp 1.000 . Pelanggan yang datang berasal dari berbagai wilayah, seperti Solo, Yogyakarta, Semarang hingga Jakarta. Nah bila Anda berkunjung ke Selo, jangan lupa untuk mencicipi jadah khas Ngunung.

Sumber



Selanjutnya...

Senin, 13 Februari 2012

Makam Ki Hajar Saloka


Makam Ki Hajar Saloka terletak di atas sebuat bukit tepatnya di sebelah barat daya Lapangan Desa Samiran Kecamatan Selo, Boyolali. Pada zaman Kerajaan Majapahit, Ki Hajar Saloka termasuk salah seorang senopatinya. Saat menjelang keruntuhan Majapahit Ki Hajar Saloka melarikan diri ke gunung dan sampailah di Gunung Kidul, Wonosari dan mendirikan sebuah


padepokan bernama Padepokan Ki Ajar Saloka, kemudian melanjutkan perjalanan ke pegunungan-pegunungan dan sampailah di sebelah utara Gunung Merapi dan wafatlah beliau.
Ki Hajar Saloka dimakamkan di puncak bukit tersebut dan menjadi cikal bakal makam tersebut. Keanehan yang terjadi menurut cerita para sesepuh Ki Hajar Saloka tidak mau pada pusara tempat ia nantinya disemayamkan diberikan nisan, rumah (cungkup). Namun, beliau makamnya cukup gundukan tanah saja dan menyerupai tumpeng dan keanehan lain pun terjadi walaupun cuma gundukan tanah dari dahulu sampai dengan saat ini makam tersebut tanahnya tidak pernah terkikis habis oleh air hujan





Selanjutnya...

Kamis, 09 Februari 2012

Jadah Khas Selo






  


Kecamatan Selo berada di jalur Boyolali – Magelang yang terletak dilereng Gunung Merapi dan Merbabu, tepat ditengah lekukan kedua gunung tersebut. Karena berada di dataran tinggi maka udaranya pun dingin, dan memang cocok jika memilih Jadah Bakar sebagai cemilan. Jadah adalah sebuah makanan yang terbuat dari ketan yang diolah bersama dengan parutan.


  



kelapa sehingga menghasilkan rasa gurih yang khas. Terasa gurih sendiri berasal dari ketan dan rasa-rasa parutan kelapa. Jadah di Selo Boyolali ini dibakar terlebih dahulu, dan penyajiaanya bersama serundeng. Serundeng adalah parutan kelapa yang dibumbui gula jawa. Sedangkan bahan dasar jadah adalah beras ketan putih yang ditumbuk. Penyajian Jadah Bakar Selo Boyolali ini dengan piring rotan yang diberi alas daun pisang yang dilembarkan. Dan cara makan Jadah Bakar adalah dicocol dengan serundeng. Bahkan karena rasa gurihnya yang sangat pas, jadah bakar ini bisa dinikmati begitu saja tanpa tambahan apapun.



Nikmatnya menyantap jadah apalagi kalau dimakan pada waktu masih hangat, ditemani dengan secangkir kopi hitam yang kental dengan pemandangan pegunungan tentunya. Setelah mencicipi, jangan lupa beli juga untuk oleh - oleh keluarga dan tetangga dirumah.



Selanjutnya...