• Selama tiga kali pasaran terakhir, harga penjualan sapi di Pasar Hewan Sunggingan, Boyolali mengalami penurunan Rp 500.000 – Rp1 juta tiap ekor.
  • Revitalisasi Umbul Tirtomulyo di Dusun Umbul, Kemasan, Sawit, Boyolali, tahap pertama sudah berjalan 60%.
  • Sebanyak 10 orang siswa dari OSIS SMK Ganesha Tama dan SMK Muhammadiyah 4 mengadakan kerja bakti membersihkan coretan di dinding bagian depan Taman Sono Kridanggo dan BPD Boyolali.
  • Menghadapi musim penghujan yang intensitasnya mulai tinggi, BPBD Boyolali melakukan pemetaan daerah rawan bencana alam.
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Desember 2012

Mentho Kacang Tholo, Gurih dan Renyah, Obat Ngantuk

Mbah Sayem (70), seorang pedagang mentho di Pasar Kota.
Pernah mencoba makanan khas Boyolali? Selain paru sapi, usus ayam,dendeng, marning jagung, makanan mentho ternyata juga tidak kalah terkenalnya. Bahkan makanan ini sudah masuk di hati masyarakat Boyolali.
Meski banyak dijual di toko-toko, snack, ini juga banyak ditemukan di pasar-pasar tradisional. Salah satunya Pasar Boyolali Kota. Namun, hanya beberapa yang menjualnya. Salah satunya Mbah Sayem (70) warga Pulisen,Boyolali Kota.
Pada usianya yang telah usur itu, Mbah Sayem tetap semangat membuat dan menjual mentho. Mbah Sayem mengaku sudah sejak berusia 15 tahun berjualan mentho. Dari seharga Rp 5 hingga Rp 500.

“Ini kan turun temurun, tidak pernah ganti jualan, karena sudah banyak langganan, untungnya memang tidak banyak,tapi saya senang jualan mentho,” ungkapnya.
Mentho yang dijual sengaja dibuat sendiri. Ada dua jenis mentho yang dijualnya, mentho kacang tholo dan kacang tanah. Bahan membuat makanan ini menurut Mbah Sayem terdiri dari tepung beras, santan, dan rempah-rempah yang dicampur jadi satu.
“Yang paling banyak dicari mentho kacang tholo, orang Jakarta kalau pas liburan atau lebaran pasti nyari saya, semua diborong,” cerita Mbah Sayem sambil tersenyum bangga.
Nah, Anda ingin mencoba mentho kacang tholo atau kacang tanah bikinan Mbah Sayem, silakan datang ke pintu masuk Pasar Boyolali Kota sisi timur, wajah tuanya akan menyambut dengan senyum ramah, serenyah mentho buatannya.

Sumber: timlo.net


Selanjutnya...

Senin, 23 Juli 2012

Melongok Kampung Pedagang Sate Kambing: Tugu Sate Tongseng Simbol Kerukunan Glagahombo

Tugu Sate Tongseng di Glagahombo, Blumbang, Klego.
Sebuah dusun di wilayah Kabupaten Boyolali dikenal sebagai pusatnya pedagang sate kambing. Tidak hanya dikenal di Boyolali, namun juga terkenal di Ibukota. Sebagai tanda, dibuatnyalah Tugu Sate Tongseng di tengah dusun.


Dusun Glagahombo, Desa Blumbang, Kecamatan Klego atau tepat di sebelah selatan Waduk Bade. Di dusun ini, sebagian besar warganya berprofesi sebagai pedagang sate kambing. Kebanyakan berjualan sate kambing di Jakarta.


Menurut Sekretaris Paguyuban Ikatan Kerukunan Keluarga Glagahombo Jabotabek, Purwanto, saat ini terdapat 1000 pedagang sate kambing di Jakarta. Begitu banyaknya warga yang berjualan sate kambing di Ibukota berawal dari getok tular warga yang sudah menetap di sana.


“Awalnya cuma sedikit, kemudian saling getok tular, kita ambil pekerja dari kampung, kalau sudah mampu, mandiri sendiri, akhirnya menjadi banyak, tersebar di Jabotabek,” ungkap Purwanto.


Diceritakan juga mulainya merambah ke Jakarta pada tahun 1960-an. Salah satu pelopornya Almarhum Jumiran, yang merintis dagang sate kambing ke Ibukota. Jumiran sendiri tidak begitu saja sukses mendulang emas di Jakarta. Usaha yang dilakukan pertama kali berkeliling hingga kemudian memiliki kios dan menetap. Keberhasilan Jumiran ini kemudian diikuti warga Glagahombo.


Sebagai wujud kebanggaan warga Glagahombo sebagai penjual sate kambing maka dibangunlah Tugu Sate Tongseng. Tugu ini juga untuk mengingatkan generasi Glagahombo untuk melanjutkan kebanggaan itu, jangan sampai hilang dan punah.
“Kita berharap jangan sampai punah. Bagaimanapun juga jualan sate tongseng kambing telah mampu mengentaskan kemiskinan dan mensejajarkan ekonomi kami dengan daerah lain,” tandas Purwanto.
Tugu Sate Tongseng sendiri berwujud patung Semar dan Petruk dengan angkring tempat berjualan sate keliling dan tempat bakaran. Tugu ini dibangun dengan dana swadaya masyarakat dan menghabiskan dana Rp 150 juta. 

Sumber: timlo.net


Selanjutnya...

Kamis, 07 Juni 2012

Sego Jagung Mbah Parti, Khas Boyolali


Mbah Parti, sudah 25 tahun jualan sego jagung.
Iwak peyek, iwak peyek sego jagung… Kalau Anda ingin mencicipi nikmatnya sego jagung, gampang. Datang saja ke Boyolali.  
Sego jagung saat ini masih menjadi menu favorit di sebagian masyarakat Boyolali. Khususnya warga di lereng Gunung Merapi-Merbabu. Sego jagung dengan bahan utama jagung, tidaklah sulit ditemukan di sudut-sudut pasar tradisional di Boyolali. Penyajian yang menggunakan pincuk (wadah dari daun pisang) dengan menu tambahan, seperti ikan asin, urap berbagai macam daun-daunan, seperti daun pepaya, bayam dan adas, bisa membangkitkan selera.
”Rasanya enak, apalagi kalau jagungnya masih baru, ada rasa manisnya, buat stamina,” ujar Totok, warga Musuk.
Salah satu penjual sego jagung yang setia dengan menu khas pegunungan itu, Parti (60) warga Pusong Boyolali Kota. Mbah Parti, demikian kalangan PNS Boyolali memangilnya sudah 25 tahun berjualan  sego jagung dari kantor ke kantor.
Setiap waktu, pelanggannya terus bertambah. Mbah parti sendiri mengaku untuk mendapatkan sego jagung yang pulen, dipilihlah jagung yang berwarna putih dan masih baru. ”Kalau masih baru kan hasilnya lebih pulen, masaknya juga harus matang betul,” ungkapnya ditemui di sela-sela melayani pembeli kalangan PNS di lingkungan Setda Boyolali, kemarin.
Meski terlihat sederhana, namun tidak semua orang bisa membuat sego jagung yang pulen. Menurut Mbah Parti, membutuhkan waktu lama untuk membuat sego jagung. Awalnya, jagung dibersihkan dan ditumbuk hingga halus,  kemudian dimasak hingga matang.
Nah Anda ingin mencoba sego jagung pulen? Silahkan datang ke Boyolali. Rasakan nikmatnya makan sego jagung dengan daun adas, ditanggung akan ketagihan.


Sumber: timlo.net


Selanjutnya...

Selasa, 03 April 2012

Tahu Susu, Makin Hot Makin Enak

Tahu susu.
Tahukah Anda, ada kuliner menarik di Kota Susu Boyolali. Yah. Namanya tahu susu. Bagi masyarakat Boyolali, tahu susu bukanlah hal asing lagi, terutama bagi kalangan peternak sapi. Namun, bagi masyarakat umum, mungkin asing dengan namanya tahu susu. Karena memang tidak terjual di pasaran ataupun swalayan.

Tahu susu bukanlah makanan yang terbuat dari tahu yang dicampur susu sapi, atau tahu yang bisa mengeluarkan susu. Namun, kuliner asli Boyolali ini terbuat dari susu sapi yang baru melahirkan. Susu sapi yang baru melahirkan ini tidak laku dijual, selain berwarna kuning juga baunya sangat amis. Eit, jangan salah! Kandungan gizinya sangat tinggi. Sayangkan bila dibuang.

Masyarakat kemudian mengolahnya menjadi cemilan langka yang hanya didapat saat sapi melahirkan. Cara membuatnya pun tidaklah sulit. Susu sapi yang baru melahirkan diperas, diberi bumbu tradisional, seperti ketumbar, bawang putih, dan garam. Bumbu-bumbu tersebut dihaluskan dan dicampur dengan susu sapi.

Setelah itu dikukus hingga matang. Setelah matang, baru dipotong-potong sesuai selera dan digoreng.
Jadilan tahu susu, kuliner lezat asli Boyolali ini paling enak bila dinikmati saat masih panas mongah-mongah. Jangan lupa, segelas kopi susu bisa menjadi teman yang mantap untuk menikmati tahu susu yang tidak dijual di pasaran ini



Sumber: timlo.net
Selanjutnya...

Jumat, 24 Februari 2012

Ke Selo, Ojo Lali Cicipi Jadah Khas Nggunung







Pesona alam Merapi-Merbabu sampai kapan pun tetap akan menjadi idola bagi wisatawan. Keindahan alamnya menjadi daya tarik tersendiri. Namun bila berkunjung lereng dua gunung tersebut,  Selo, Kabupaten Boyolali, jangan lupa untuk menikmati makanan khas masyarakat nggunung, jadah ragi manis plus tempe bacem.

Hawa dingin pegunungan terasa menusuk tulang belulang. Namun dinginya Merapi akan sirna tatkala di depan mata terhidang jadah khas Selo. Hemmmmmm… selain gurih, jadah khas Selo ini paling enak dinikmati dengan teh kampul. Pokoknya nyamleng…

Salah satu warung jadah yang sudah terkenal adalah milik Mbah Jadah Waginem. Di usianya ke 87 tahun tersebut, Mbah Jadah Waginem merupakan generasi ke tiga. Usaha keluarga turun temurun ini menurut keterangan Mbah Jadah sudah berusia hampir 300 tahun. ”Wah ini sudah lama sekali, turun temurun, saya sendiri sudah menekuni sejak 75 tahun lalu,” papah Mbah Jadah yang masih tetap energik, baru-baru ini.

Untuk mempertahankan pelangganya, Mbah Jadah mempunyai kiat khusus dalam mempertahankan rasa. Salah satunya adalah memilih kelapa dengan kualitas terbaik dan pemilihan beras ketan yang bagus. ”Semua bahan yang kita gunakan kualitasnya terbaik. Jadah buatan kita ini bisa bertahan selama seminggu,” ungkapnya sambil melayani pembeli.


Selain cita rasa, untuk menarik pelanggan, jadah pulen ini dinikmati dengan ragi manis yang terbuat dari parutan kelapa yang dimasak dengan cita rasa manis dan tempe bacem. Satu potong jadah dijual Rp 1.000 . Pelanggan yang datang berasal dari berbagai wilayah, seperti Solo, Yogyakarta, Semarang hingga Jakarta. Nah bila Anda berkunjung ke Selo, jangan lupa untuk mencicipi jadah khas Ngunung.

Sumber



Selanjutnya...

Kamis, 09 Februari 2012

Jadah Khas Selo






  


Kecamatan Selo berada di jalur Boyolali – Magelang yang terletak dilereng Gunung Merapi dan Merbabu, tepat ditengah lekukan kedua gunung tersebut. Karena berada di dataran tinggi maka udaranya pun dingin, dan memang cocok jika memilih Jadah Bakar sebagai cemilan. Jadah adalah sebuah makanan yang terbuat dari ketan yang diolah bersama dengan parutan.


  



kelapa sehingga menghasilkan rasa gurih yang khas. Terasa gurih sendiri berasal dari ketan dan rasa-rasa parutan kelapa. Jadah di Selo Boyolali ini dibakar terlebih dahulu, dan penyajiaanya bersama serundeng. Serundeng adalah parutan kelapa yang dibumbui gula jawa. Sedangkan bahan dasar jadah adalah beras ketan putih yang ditumbuk. Penyajian Jadah Bakar Selo Boyolali ini dengan piring rotan yang diberi alas daun pisang yang dilembarkan. Dan cara makan Jadah Bakar adalah dicocol dengan serundeng. Bahkan karena rasa gurihnya yang sangat pas, jadah bakar ini bisa dinikmati begitu saja tanpa tambahan apapun.



Nikmatnya menyantap jadah apalagi kalau dimakan pada waktu masih hangat, ditemani dengan secangkir kopi hitam yang kental dengan pemandangan pegunungan tentunya. Setelah mencicipi, jangan lupa beli juga untuk oleh - oleh keluarga dan tetangga dirumah.



Selanjutnya...