• Selama tiga kali pasaran terakhir, harga penjualan sapi di Pasar Hewan Sunggingan, Boyolali mengalami penurunan Rp 500.000 – Rp1 juta tiap ekor.
  • Revitalisasi Umbul Tirtomulyo di Dusun Umbul, Kemasan, Sawit, Boyolali, tahap pertama sudah berjalan 60%.
  • Sebanyak 10 orang siswa dari OSIS SMK Ganesha Tama dan SMK Muhammadiyah 4 mengadakan kerja bakti membersihkan coretan di dinding bagian depan Taman Sono Kridanggo dan BPD Boyolali.
  • Menghadapi musim penghujan yang intensitasnya mulai tinggi, BPBD Boyolali melakukan pemetaan daerah rawan bencana alam.
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Desember 2012

Warga Berharap Ada Dampak Peningkatan Kesejahteraan Dari Revitalisasi Umbul Tirtomulyo

Umbul Tirtomulyo di Kemasan, Sawit sedang dalam proses revitalisasi.
Revitalisasi Umbul Tirtomulyo di Dusun Umbul, Kemasan, Sawit, Boyolali, tahap pertama sudah berjalan 60%. Warga sekitar umbul berharap, revitalisasi umbul yang dibangun oleh Pakubuwono X tersebut bisa memberikan peningkatan kesejahteraan.
Warga Umbul RT 001/002, Kemasan, Mursidi, 65, kepada Solopos.com, Jumat (7/12/2012), menjelaskan sebelum ada revitalisasi sudah banyak pengunjung yang melakukan ritual kungkum di Umbul Tirtomulyo. Ke depan Mursidi menilai pengunjung umbul bisa lebih banyak lagi. “Pada dasarnya warga menyambut gembira pembangunan umbul yang nantinya dilengkapi fasilitas wahana permainan air tersebut. Kalau dulu ramainya hanya pada malam ritual, ke depan pasti bisa lebih banyak lagi karena umbul buka pagi-malam,” jelasnya.
Melalui revitalisasi umbul, Mursidi berharap ada peningkatan kesejahteraan bagi desanya. “Kalau bisa perekonomian warga bisa meningkat. Selama 26 tahun saya hanya buka warung kelontong. Nanti kalau ada rejeki, kami juga ingin membuka usaha warung untuk pengunjung umbul,” terangnya.
Camat Sawit, Heri Widono, menjelaskan revitalisasi Umbul Tirtomulyo melibatkan warga sekitar. Sedang penyerapan tenaga pengelolaan oleh warga sekitar, menunggu koordinasi dari Dinas Pariwisata (Disparta) Boyolali. “Sejak pembangunan kami sudah sosialisasi warga yang ingin bergabung untuk ikut dalam proyek pembangunan. Tapi nyatanya warga sekitar juga banyak yang enggan. Hanya beberapa saja. Untuk warga yang ingin bergabung dalam pengelolaan nanti akan kami koordinasi dengan Disparta,” ujarnya.
Heri berharap keberadaan umbul di Sawit bisa mendongkrak perekonomian warga sekitar. “Harapannya bisa memberdayakan warga sekitar. Syukur kalau bisa ada penyerapan tenaga sekitar. Potensi warga yang dikembangkan di Sawit juga bisa ikut terdongkrak,” tandasnya.

Sumber: solopos.com


Selanjutnya...

Selasa, 07 Agustus 2012

Persediaan Air di Waduk Cengklik Aman Hingga 80 Hari

Seorang warga sedang memancing di Waduk Cengklik.
Petani yang memanfaatkan air irigasi Waduk Cengklik, Ngemplak, Boyolali, dihimbau tak khawatir menggarap lahannya di musim kemarau ini. Pasalnya, persediaan air di Waduk Cengklik dinyatakan aman hingga 80 hari ke depan.
Hal itu disampaikan Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pengguna Air (GP3A) daerah irigasi Cengklik, Samidi, kepada Solopos.com, Selasa (7/8). Volume air waduk saat ini adalah 4,9 juta meter kubik.
Volume air itu, dikatakannya, dialokasikan sesuai kebutuhan. Rata-rata air dialirkan setiap 10 hari. Saat ini saluran kiri irigasi cengklik digelontor air 300 liter/detik dan kanan 300 liter/detik. “Kini sudah kami alokasikan untuk pembibitan musim tanam III golong 2, yakni daerah Kecamatan Nogosari. Potronayan, Kenteng dan dua daerah Kecamatan Ngemplak, yakni Sindon dan Ngesrep,” ujarnya.
Pasokan air itu akan ditingkatkan pada akhir Agustus. Penambahan dilakukan untuk mengecek kelayakan saluran kiri yang beberapa bagiannya saat ini masih diperbaiki. “27 Agustus kami tambah menjadi 900 liter/detik karena ada uji air untuk saluran yang dibenahi. Harus ditambah karena jangkauan saluran sampai ke Nogosari paling timur, yakni sekitar Desa Jeron,” tandasnya.
Selain itu, lanjut dia, kebutuhan air dibantu suplesi Waduk Leter dengan kapasitas 250 liter/detik. Sementara Bendung Brajan di Desa Gagaksipat, Ngemplak, dinyatakan Samidi di posisi aman, yakni mampu mengaliri air 275 liter/detik.

Sumber: solopos.com


Selanjutnya...

Senin, 06 Agustus 2012

Sepi Pengunjung, Flying Fox Cepogo Berhenti Beroperasi

Flying fox tikungan di Irung Petruk.
Wahana Flying Fox di kawasan Irung Petruk, Desa Genting, Cepogo, Boyolali, saat ini berhenti beroperasi mengingat minat pengunjung dinilai belum memadai.
Berdasarkan pantauan Solopos.com di lokasi, Senin (6/8), tiang-tiang tumpuan wahana yang menawarkan uji adrenalin dengan berseluncur di ketinggian tersebut masih terpasang. Namun, kabel pengait tiang yang lazimnya dipakai sebagai rel seluncur sudah diambil oleh pemiliknya.
Trek seluncur diketahui memiliki panjang lebih dari 25 meter. Dari potensi tersebut, wahana menawarkan tantangan yang lebih dibanding flying fox di tempat lain. Pasalnya, pengguna jasa di sana bisa lebih tertantang meluncur di atas jurang yang menjadi jeda antar tikungan jalan di sekitar Irung Petruk.
Namun sayangnya, wahana tersebut tak beroperasi dalam beberapa bulan terakhir. “Sudah ada dua bulan tak beroperasi karena dalam sebulan hanya berapa orang yang menyewa,” terang salah seorang warga yang tinggal di sekitar lokasi, Lastri, 32, kepada Solopos.com.
Wahana tersebut, lanjut dia, diserahkan kepada salah seorang warga Desa Genting untuk diurus. Lastri menyebut nilai setiap sewa penggunaan fasilitas tersebut terlalu mahal.
Warga Genting lainnya, Bandel, mengatakan sewa perpaket penggunaan jasa tersebut adalah Rp20.000. Dia menganggap harga tersebut relatif masih terjangkau. Dia menjelaskan tiga warga direkrut pemilik untuk mengurusi pengoperasian flying fox. “Memang bulan-bulan ini sepi dan gaji karyawan kan setiap bulan, jadi tak seimbang dengan pendapatan,” jelasnya.
Meskipun demikian, dia menerangkan terdapat rencana mengaktifkan kembali wahana tersebut pada musim lebaran nanti. “Musim lebaran kan biasanya ramai. Yang kami dengar, kemungkinan wahan diaktifkan lagi,” tandasnya.
Selain menikmati tantangan wahana tersebut, pengunjung bisa melihat keindahan pemandangan alam pegunungan. Dataran Boyolali dan Solo bisa terlihat dari lokasi itu.



Sumber: solopos.com



Selanjutnya...

Rabu, 18 Juli 2012

Padusan, Mas dan Mbak Boyolali Siraman

Mas dan Mbak Boyolali menjalani ritual
siraman di acara padusan.
Tradisi padusan di Kota Susu dibuka dengan Siraman terhadap Mas dan Mbak Boyolali di Umbul Ngabean, Pengging, Banyudono, Rabu (18/7). Sebelum Siraman, ritual tahunan ini diawali dengan kirab budaya dari Masjid Ciptomulyo menuju ke Obyek Wisata Tirtomarto Pengging.


Setelah rombongan kirab tiba di Pengging, Mas dan Mbak Boyolali, Andika Cahya Saputra dan Wahyu Nur Wijayanti sungkem kepada Bupati Boyolali dan Muspida yang hadir. Setelah itu, baru dilakukan siraman yang diawali Bupati.


Keduanya disiram menggunakan air bunga yang telah disiapkan. Mulai dari Bupati, Ketua Dewan Slamet Paryanto hingga Kepala Disbudpar, Drs Sugianto. Usai siraman, Mas dan Mbak Boyolali digiring ke Umbul Ngabean untuk dimandikan langsung ke kolam yang dulu digunakan sebagai tempat pemandian Paku Buwono X, Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.


Bupati Boyolali, Seno Samudro mengatakan, selain Pengging, pihaknya juga menyiapkan Tlatar. ”Dulu padusan ini digunakan Walisonggo untuk syiar agama Islam, sekarang padusan diartikan menyucikan diri menjelang puasa,” ungkap Bupati.




Sumber: timlo.net



Selanjutnya...

Inilah Obyek Wisata Pilihan untuk Padusan

Salah satu kolam renang di Umbul Tlatar.
Dua obyek wisata yang disiapkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Boyolali untuk padusan, andalah Obyek Wisata Tlatar di Boyolali Kota dan Obyek wisata Umbul Tirtomarto atau Umbul Pengging, Banyudono. Ritual padusan di dua obyek wisata tersebut akan digelar selama dua hari, 18-19 Juli.

Untuk obyek wisata Tlatar, pengelolaan tradisi padusan diserahkan ke pihak Desa Kebonbimo, Boyolali Kota. Di obyek ini terdapat tiga umbul yang bisa digunakan, umbul besar, kolam renang international dan umbul Pengilon. Selain kolam renang milik pemancingan Atasia. Untuk Tlatar, Disbudpar menargetkan 12 ribu pengunjung.
Sementara untuk Tirtomarto yang lebih dikenal dengan Umbul Pengging, Disbudpar menargetkan 10 ribu pengunjung. Untuk pengelolaan di Umbul Pengging diserahkan ke pihak ketiga. Di umbul Pengging ini terdapat tiga umbul dan satu kolam anak-anak. Tiga umbul tersebut, umbul Ngabean, Umbul Nganten dan Umbul Dudo serta kolam renang anak-anak.
Menurut pihak pengelola umbul Pengging, Subagio Win-win, pihaknya menargetkan pendapatan sebesar Rp 48 juta selama dua hari. Sedangkan harga tiket masuk sebesar Rp 9000. Diakui harga tiket masuk lebih mahal dibandingkan sebelumnya. Pasalnya, untuk event padusan kali ini sebagai daya tarik pengunjung, pihaknya menghadirkan penyanyi setara dengan artis-artis ibukota.
“Memang tiketnya lebih mahal, karena kita juga ingin pengunjung puas, tapi kita optimis target akan terpenuhi ” ungkap Subagio, ditemui di Umbul Pengging, Selasa (17/7).
Selain itu, sebelum pelaksanaan padusan dimulai, pihaknya juga akan melakukan acara siraman, secara simbolis sebagai tanda dibukanya padusan.

Sumber: timlo.net


Selanjutnya...

Senin, 02 Juli 2012

Eman-eman, Umbul Nepen Belum Dikelola

Kabupaten Boyolali memiliki banyak obyek wisata, mulai dari wisata Gunung Merapi-Merbabu, wisata air Tlatar dan Pengging hingga wisata spiritual yang tersebar di beberapa wilayah. Namun dari beberapa obyek wisata yang sudah dikenal, rupanya tak sedikit yang belum dikemas dengan baik untuk tujuan wisata. Salah satunya adalah Umbul Nepen yang berada di Kecamatan Teras, Boyolali.
Umbul Nepen sendiri berada di pinggir jalan alternatif Teras Boyolali dengan Tulung Klaten. Untuk mencapai Umbul ini tidaklah sulit karena jaraknya yang tidak begitu jauh dari Jalan Raya Solo-Semarang. Saat ini, Umbul Nepen lebih banyak dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk mandi, mencuci dan pengairan.
Menurut salah satu tokoh masyarakat, Jarot Suryono, Umbul Nepen ini pernah kering. Berbagai upaya dilakukan warga untuk menghidupkan kembali, seperti mengelar ritual sebar menthok dan Rodatan di lokasi. “Ada lima tahunan mengering, waktu gempa Jogja kemarin itu airnya mulai keluar, tapi debitnya masih sedikit, kita bersama dengan masyarakat melakukan upaya agar airnya bisa keluar lagi,” ungkapnya.
Usaha yang dilakukan wargapun tidaklah sia-sia, sumber air di Umbul Nepen kembali keluar. Bahkan debit airnya sangat besar melebihi sebelum-sebelumnya. ”Yah kita ingin ini bisa jadi tempat wisata, biar lebih ramai,” ujar Jarot.
Untuk menarik pengunjung, Umbul Nepen pun dibenahi dengan diberi tembok pembatas. Upaya ini berhasil dan mulai banyak pengunjung yang datang menikmati segarnya sumber air alami.


Sumber: timlo.net



Selanjutnya...

Sabtu, 30 Juni 2012

Liburan, Warung Apung Tlatar Mbludak

Ekowisata Tlatar, Boyolali. (Sumber)
Memasuki liburan sekolah, Obyek Wisata Tlatar Boyolali mulai ramai dikunjungi. Pemilik pemancingan di Tlatar mengaku pengunjung mengalami peningkatan hingga 30% dari hari biasa. Peningkatan pengunjung ini membawa berkah bagi mereka.
Diakui salah satu petugas warung apung di Tlatar, Bowo, pengunjung mengalami peningkatan memasuki libur sekolah. Bahkan dimungkinkan akan terus mengalami peningkatan hingga akhir liburan sekolah. Pengunjung yang datang, diakui kebanyakan berasal dari luar kota. Untuk wilayah Boyolali, jumlahnya tidak begitu banyak.
“Kalau pengunjung dari Boyolali malah sedikit, mungkin karena sudah biasa kesini, justru dari luar kota yang banyak,” ungkap Bowo, ditemui di warung apung Eko Wisata Air Tlatar, Jumat (29/6)
Sebagai daya tarik bagi pengunjung, pengelola pemancingan menyediakan menu andalan. Tidak hanya menu ikan bakar yang ditawarkan, namun juga berbagai fasilitas lain. Seperti kolam renang dan pakecehan. “Kebanyakan pengunjung disini selain menikmati ikan bakar juga ingin menyatu dengan alam,kebetulan sumber air disini masih alami, jadi itu kita jadikan sebagai daya tarik,” tandas Mularso, pemilik pemancingan Tirto Wening.
Sementara untuk memenuhi kebutuhan ikan dan mengantisipasi lonjakan permintaan, pihak pengelola jauh-jauh hari sudah melakukan stock. Disebutkan, stock ikan didatangkan dari wilayah terdekat dan bahkan juga diambilkan dari luar kota, seperti Janti, Klaten. 


Sumber: timlo.net


Selanjutnya...

Senin, 21 Mei 2012

Situs Batu Dakon Tidak Terawat

Banyaknya situs peninggalan bersejarah di Kota Susu menunjukkan sejarah yang terpendam, sayangnya banyak pula yang tidak terawat dengan baik. Salah satunya adalah situs batu dakon. Situs batu ini hanya berukuran 40 cm x 30 cm dan terdapat lubang-lubang kecil dan besar.
Dari bentuknya, situs batu dakon ini dulunya digunakan untuk bermain dakon, atau permainan anak dengan menggunakan batu kecil sebagai alat mainya yang hingga kini masih banyak dimainkan. Ini bisa terlihat dengan lubang-lubang kecil dan besar yang masih sangat kentara. Situs batu dakon ini ditemukan di Dusun Cepoko, Sawit Kecamatan Sawit, Boyolali.
Sayangnya, situs batu peningalan jaman dulu ini hanya diletakkan di luar pagar situs gajah putih. Kondisinyapun sangat memprihatinkan, selain kotor, pada lubang-lubangnya juga dipenuhi air dan terdapat lumutan dibeberapa bagian.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Boyolali, Sugianto mengakui di Boyolali banyak sekali situs-situs peninggalan sejarah yang masih terbengkalai. Hampir tersebar di beberapa wilayah kecamatan terutama yang mempunyai hubungan dengan jaman kerajaan, seperti pengging kecamatan Banyudono, Sawit, Paras Cepogo, hingga Boyolali Kota. ”Kita akan lakukan pendataan dan kita inventarisir,kita amankan agar tidak dicuri,” tandas Sugianto. 

Sumber: timlo.net



Selanjutnya...

Kamis, 03 Mei 2012

Situs Gajah Putih di Sawit Terbengkalai

Situs Gajah Putih di Cepoko, Sawit.
Kota Susu Boyolali banyak menyimpan situs-situs bersejarah peninggalan jaman dahulu. Hanya, banyak situs yang tidak dirawat dengan baik dan terbengkalai. Seperti situs batu Gajah Putih yang berada di Desa Cepoko, Kecamatan Sawit ini. Kondisinya sangat memprihatinkan.

Memasuki areal situs Gajah Putih yang terletak di tengah areal persawahan harus melewati pematang sawah. Situs batu ini berada di dalam bangunan persegi empat ini yang dipenuhi dengan rumput dan alang-alang. Dari awal terlihat kondisi situs yang terbengkalai dan kotor, memperlihatkan tidak adanya perawatan yang baik. Kondisi ini semakin diperparah dengan gempa yang terjadi tahun 2006 lalu.

Kepala Desa Cepoko, Slamet Rahardjo, mengaku pihaknya tidak bisa berbuat banyak, mengingat lokasi situs merupakan kewenangan dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng yang berada di Prambanan, Klaten. ”Kami tidak bisa berbuat banyak, nanti kalau kita berbuat sesuatu nanti malahan disalahkan sama yang berwenang,” ungkap Kades di lokasi situs, Rabu (2/5).

Diakui, lokasi situs Gajah Putih akan digunakan sebagai tempat wisata, namun gagal karena kewenangan ada pada BP3. ”Dulu sempat hendak dapat bantuan untuk rehab, tapi begitu tahu itu kewenangan BP3 akhirnya tidak jadi,” ujarnya.

Meski situs batu Gajah Putih sudah lama berada di Cepoko, namun tidak banyak warga yang mengetahui asal usul situs tersebut. Pihaknya berharap ada perhatian dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk bisa mengelola dengan baik keberadaan situs tersebut sehingga bisa terawat.



Sumber: timlo.net


Selanjutnya...

Senin, 30 April 2012

Ikutilah..!! Pemilihan Mas Dan Mbak Duta Wisata Kab. Boyolali 2012

Duta Wisata Boyolali 2011.
Pemkab Boyolali mulai membuka pendaftaran Mas dan Mbak Duta Wisata Boyolali 2012. Pendaftaran Duta Wisata Boyolali ini dibuka 1 Mei hingga 16 Juni mendatang. “Persyaratan tidak banyak berbeda dengan tahun lalu. Hanya saja ada perubahan pada tinggi badan. Untuk perempuan minimal 165 cm dan lelaki 170 cm,” papar Kabid Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Boyolali, Neneng Dewi Setyowati saat ditemui solopos.com di kantornya, Senin (30/4).

Diharapkan, remaja asli Boyolali dengan usia minimal 17 tahun dan maksimal 25 tahun dapat mengikuti ajang ini. “Dia harus ber-KTP asli Boyolali. Ajang ini juga untuk mengetahui sejauh mana kemampuan muda-mudi Boyolali mengenal daerahnya,” urainya.

Neneng pun memaparkan pada 19 Juni akan digelar technical meeting. Agenda selanjutnya serangkaian tes seperti tertulis, wawancara, beauty class, tes potensi diri. Peserta akan dikarantina mulai tanggal 27-29 Juni.  Malam grand final acara ini akan dihelat pada 30 Juni 2012 mendatang. Semua kegiatan karantina dan malam grand final akan diselenggarakan di HOTEL GRAND CANYON RESORT & SPA, Jl. Tentara Pelajar, Desa Ngesrep, Kec. Ngemplak, Boyolali (dekat Bandara Adi Soemarmo).


Dan berikut adalah syarat-syarat pendaftaran Mas dan Mbak Duta Wisata Kab. Boyolali 2012:


Persyaratan Umum:
  1. Warga Boyolali yang belum menikah.
  2. Pendidikan minimal SMU, SMK, MA, Akademi, atau Perguruan Tinggi.
  3. Umur minimal 17 tahun dan maksimal 25 tahun terhitung tanggal 31 Desember 2012.
  4. Tinggi badan minimal 165 cm untuk wanita dan minimal 170 cm untuk pria.
  5. Foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kab. Boyolali.
  6. Surat Ijin Orang Tua atau Surat Rekomendasi Dari Sekolah bagi yang berstatus pelajar.
  7. Surat keterangan berbadan sehat  jasmani maupun rohani dari Dokter.
  8. Daftar riwayat hidup.
  9. Pas foto berwarna: Ukuran 4 x 6 ditempel pada formulir pendaftaran; Foto close up dan foto seluruh badan ukuran post card dengan baju batik dan background/latar belakang warna putih masing-masing 1 lembar.
  10. Mengisi formulir pendaftaran.
  11. Membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 100.000 (seratus ribu rupiah) per peserta dengan fasilitas: 1 (satu) buah t-shirt, beauty class, piagam penghargaan, snack dan makan selama acara.
  12. Hadiah: Juara I,II, dan III Putra Putri akan mendapatkan uang pembinaan dan  piagam penghargaan.



Persyaratan khusus pada babak final: 

-Pakaian kejawen lengkap gaya Surakarta untuk Putra Putri.
-Kain corak slogan Solo (tidak boleh prada)
-Khusus Putri: Kebaya kutu baru, gelung biasa dengan borokan; Non brokat dan tidak transparan.




Materi penilaian: 
  1. Pengetahuan umum.
  2. Pengetahuan tentang kepariwisataan dan pariwisata Boyolali.
  3. Bahasa Jawa dan Bahasa Inggris.
  4. Personality (kepribadian) dan etika.
  5. Appereance (penampilan).
  6. Potensi diri.

Tempat Pendaftaran:

Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Boyolali
Jl. Raya Solo-Boyolali KM. 2, Mojosongo, Boyolali
Telp. (0276) 321 150


Contact Person:

Dilla: 0856 4744 7659
Ressa: 0857 2730 0015
Ferra: 0852 8030 007
Galuh: 0821 3441 8881


Pendaftaran dibuka tanggal 1 Mei dan ditutup tanggal 16 Juni 2012. Buruan daftarkan diri kalian. :)




 Sumber: solopos.com, pariwisataboyolali.info.

Selanjutnya...

Kamis, 05 April 2012

Menengok Pesanggrahan Paku Buwono X Di Cepogo, Boyolali

Salah satu raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, SISKS Paku Buwono X yang baru saja memperoleh gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah, banyak membangun berbagai bangunan yang hingga kini masih bisa kita saksikan. Namun sayangnya, ada sejumlah bangunan yang kini rusak dan tak terawat, meski sebenarnya memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.
Salah satunya adalah pesanggrahan di Desa Paras, Kecamatan Cepogo. Kondisi pesanggrahan Pratjimohardjo itu kini rusak berat. Padahal, bangunan ini merupakan salah satu tempat bersejarah. Bukan hanya sejarah tentang Keraton Surakarta melainkan juga perjuangan pahlawan nasional Slamet Riyadi.
“Dahulu kala memang masih utuh. Namun, sejak agresi militer zaman Belanda dulu pesanggrahan ini dibakar oleh tentara Indonesia. Tujuannya agar tidak digunakan oleh Belanda,” ujar seorang abdi dalem keraton, Partiyah yang diberi tugas sebagai penjaga saat ditemui wartawan, bersama suaminya, Mulyanto.
Partiyah menuturkan Tentara Pembela Tanah Air (Peta) yang dipimpin oleh Slamet Riyadi pernah menjadikan pesanggrahan tersebut sebagai markas. Akan tetapi, saat agresi militer Belanda pada tahun 1949 kompleks itu dibakar karena dikhawatirkan markas tersebut direbut oleh Belanda.
Pesanggrahan yang kini tinggal bekas bangunan dan puing-puing ini konon dulunya sangat megah. Saking mewahnya bahkan sampai seperti miniatur istana keraton. Selain dilengkapi dengan halaman luas yang luas, juga ada pendapa, tamansari dan dalem ageng yang sering digunakan oleh Sinuhun Paku Buwono X untuk tetirah.
Tempat yang biasa digunakan untuk beristirahat sang raja itu kini tinggal puingnya saja. Bekas bangunan itu banyak ditumbuhi oleh tanaman liar seperti rerumputan. “Dulu katanya dari Pemkab mau ada semacam perbaikan. Akan tetapi, hingga kini belum juga diperbaiki. Kami pun menjaganya ala kadarnya,” imbuhnya.
Partiyah bersama suami masih mendapatkan jatah dari keraton untuk merawat dan mengurusi pesanggrahan ini. Akan tetapi, jumlah yang diberikan memang tak sebanding dengan tanggung jawab yang dipikul keduanya. Mereka menjaga pesanggrahan ini turun-temurun sebagai bentuk pengabdian kepada pihak keraton. Sesekali pesanggrahan ini masih didatangi pengunjung. Mereka yang datang dengan berbagai maksud. Namun, pada umumnya mereka hendak tetirah. Ia berharap ada perhatian lebih dari Pemkab untuk melestarikan peninggalan sejarah yang istimewa itu.

Sumber: solopos.com


Selanjutnya...

Selasa, 03 April 2012

Gardu Pandang New Selo: 2 Gunung Tak Harus Didaki Lho..

Potensi pemandangan alam yang indah di kawasan obyek wisata Arga Merapi-Merbabu tak harus dinikmati dengan mendaki dua gunung tersebut. Namun, pemandangan alamnya bisa dinikmati di Gardu Pandang New Selo. Gardu Pandang ini tepat membelah di bawah kaki Gunung Merapi dan dari sini bisa menikmati indahnya Gunung Merbabu.


Yaah. tidaklah sulit mencapai lokasi Gardu Pandang New Selo. Dari kota Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, hanya berjarak dua kilometer. Meski jalan menuju ke lokasi naik, namun hanya satu tanjakan yang terlalu tinggi. Tapi jangan khawatir, kendaraan roda dua maupun empat bisa dengan mudah mencapai lokasi.


Di New Selo,  selain bisa menikmati sejuknya udara pegunungan juga bisa melihat secara langsung megahnya Gunung Merbabu. Selain itu, bila malam menjelang, perkampungan penduduk dengan kerlip-kerlip lampu malamnya juga tampak di Gardu Pandang ini. Di lokasi ini juga dilengkapi dengan kios-kios makanan yang berjejer dan halaman parkir yang luas.


“Dulu kami tahunya kalau ke Merapi harus mendaki, ternyata pemandangan alamnya juga bisa dinikmati dari Gardu Pandang New Selo,” ungkap Ambarwati, salah satu pelancong asal Solo. Biasanya para pelancong memilih datang ke New Selo dengan mengendarai sepeda motor. Alasannya, mereka bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat pegunungan di sepanjang jalan menuju ke obyek wisata.


Obyek wisata yang dibangun Pemkab Boyolali pada 2004 ini banyak dikunjungi pelancong setiap Minggu dan hari libur sekolah. Karena memang kebanyakan pengunjungnya adalah anak-anak muda. Nah, kalau Anda jenuh dengan polusi di kota, tidak ada salahnya berkunjung ke New Selo. Menikmati dua gunung tersebut, memang tak harus didaki.






Sumber: timlo.net








Selanjutnya...

Cihuyy!! Ada Air Terjun Baru di Lereng Merapi

Warga di Dukuh Songgobumi, Mriyan, Musuk, Boyolali menemukan air terjun di kawasan lereng Gunung Merapi bagian timur. Air terjun setinggi 95 meter tersebut diharapkan bisa menjadi sumber air bagi warga saat musim kering tiba.


Penyisiran air terjun dilakukan Lembaga Swadaya Masyarakat Bimma Nusantara musuk yang melakukan investigasi di lereng Merapi bagian timur. Penyisiran dilakukan di antara Bukit Ngangrong dan Bukit Gerengah timur puncak Merapi. Jarak bukit ini dengan desa terdekat, Gobumi, hanya dua kilometer. “Jaraknya memang dekat, tapi medannya sangat sulit, harus menyusuri tebing curam. Kami kadang juga harus membuat jalan baru,” ungkap Tulus Rahayu, Selasa (3/4).


Air terjun yang ditemukan didekatnya juga terdapat gua berisi kolam air berlimpah. Air terjun dengan ketinggian 95 meter dengan debit air sekitar 5 liter per detik. Selain itu, tim juga menemukan aneka satwa seperti kera dan burung termasuk Elang Jawa.


Selanjutnya, penemuan air terjun tersebut, lanjut Tulus, akan dimanfaatkan oleh warga sekitar. “Rencananya akan kita berdayakan, terutama untuk memenui kebutuhan air bersih saat musim kemarau,” ungkap Tulus. Selain untuk air bersih, pihaknya juga berharap air terjun tersebut bisa digunakan sebagai potensi wisata alam.




Sumber: timlo.net
Selanjutnya...

Senin, 02 April 2012

#BylFoto: Temuan Batu Bersejarah di Watutelenan




Sebuah batu berbentuk unik ditemukan warga di Kampung Watutelenan RT 007/RW 008, Kelurahan Pulisen, Kecamatan Boyolali Kota, Boyolali. Warga tidak berani mengutak-atik batu tersebut karena memperkirakan benda bersejarah.

Batu tersebut kali pertama ditemukan oleh pemilik lahan, Slamet Harso Dinomo, 76. Saat itu dia dia bermaksud mengambil batu-batu besar yang terpendam di dalam tanah. Di salah satu bagian kebun tersebut, dia mendapati batu yang mencuat dari tanah. Slamet kemudian memutuskan menggali tanah di sekitar batu itu.

Dan berikut adalah beberapa foto batu tersebut yang Ibo ambil dari berbagai sumber:


















Sumber: solopos, timlo.net.



Selanjutnya...

Rabu, 28 Maret 2012

Ditemukan Situs Purbakala Baru di Pulisen

Warga Kampung Watutelenan, Kelurahan Pulisen, Kecamatan Boyolali Kota, Boyolali dihebohkan dengan penemuan batu diduga sebuah candi di ladang milik warga bernama Suranto. Batu tersebut saat ini menjadi tontonan warga sekitar.

Warga sekitar lokasi menduga batu bentuk mirip dengan kepala nisan pada makam etnis Cina merupakan peninggalan jaman dahulu. Sepintas batu berukuran lebar 1,5 meter tersebut dengan kedalaman 1,5 meter terdapat dua tingakatan. Pada tingkat pertama bentuk segitiga, tingkat kedua lebih datar dan pada bagian bawah belum tampak.

Menurut pemilik tanah, Suranto,batu yang terlihat bagian atas tersebut, sudah diketahui sejak lima tahun lalu. “kita tahunnya sudah lima tahun lalu,tapi hanya terlihat sedikit, setelah kita gali, mau kita ambil, ternyata bentuknya seperti candi, sementara kita hentikan dulu,” papar Suranto saat ditemui di lokasi, Senin (26/3).

Penggalian tersebut dilakukan awalnya untuk mengambil batu-batuan di lokasi yang hendak dijadikan bahan bangunan. Untuk sementara pemilik tanah menghentikan penggalian menunggu pengecekan dari instansi terkait, yaitu Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Boyolali.

Sebelumnya, di kampung tersebut juga ditemukan batu mirip candi, yang kemudian menjadikan kampung tersebut diberi nama Watutelenan. Saat ini banyak warga yang merasa penasaran dengan keberadaan batu aneh tersebut. Lokasi ditemukan batu menjadi tontonan warga.



Kini penemuan batu tersebut mendapat perhatian khusus dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Boyolali. Sampai sekarang pihak Disparbud belum bisa menentukan nilai sejarah batu itu. Kepala Disparbud, Sugiyanto menyatakan sudah menurunkan tim untuk meneliti batu tersebut. Untuk kepastian lebih lanjiut pihaknya siap berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah. Karena  untuk mementukan  kepurbakalaan temuan membutuhkan penelitian lebih detail dari BP3. Andai batu tersebut dinyatakan sebagai benda purbakala, pihaknya siap mengangkat batu itu dari ladang pemilik, Suranto.




Selanjutnya...

Jumat, 17 Februari 2012

Menengok Peninggalan Mataram Hindu di Cepogo, Boyolali










Di Dukuh Bakulan, Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, Boyolali, ada daya tarik yang patut disambangi. Ada peninggalan kuno berupa batu tumpuk yang berjumlah sekitar sembilan buah yang terdapat di lahan milik warga. Kini batu-batu itu disatukan di dalam kompleks pesanggrahan Siti Maryam, tokoh masyarakat setempat.
Konon, batu-batu itu sendiri yang secara gaib memberi isyarat minta dipindahkan ke dalam kompleks petilasan. Uniknya, batu tumpuk itu berada pada posisi tegak berdiri. Padahal kondisinya miring dengan bentuk batu di atas lebih besar dari yang untuk tumpuan.


“Ditemukan warga sudah begitu adanya. Sejak sekitar puluhan tahun lalu tidak berubah. Baik cuaca hujan ataupun panas tidak merubah posisinya,” papar warga setempat, Aliman saat ditemui Espos di Dukun Bakulan, Desa Jelok, Kecamatan Cepogo. Di antara batu-batu tumpuk itu ada sebuah patung lembu tidur yang dianggap sebagai peninggalan sejarah. Patung itu teronggok di bawah pohon besar yang dipercaya sebagai punden oleh warga setempat.
Gito, generasi ke delapan juru kunci pesanggrahan itu mengaku tidak mengetahui asal muasal patung dan sejumlah susunan batu. Semenjak dia masih anak-anak, batu-batu itu sudah ada, dan tertata seperti itu. Menurutnya, di tempat tersebut juga terdapat sebuah kitab kuno. Namun, kitab itu dia ketahui saat dirinya masih remaja. Bertuliskan huruf Jawa dan Arab tanpa tanda baca. Namun, saat ini kitab itu hilang bersamaan meninggalnya juru kunci terdahulu, sekitar 45 tahun lalu.


“Diduga, ini merupakan peninggalan masa Mataram Hindu. Sebab, situs berbentuk lembu hanya ada pada masa itu. Bisa jadi merupakan arca lembu nandini yang menjadi kendaraan Siwa,” kata Kaur Pembangunan Desa Jelok, Munir. Pihaknya berharap adanya optimalisasi objek wisata situs bersejarah di daerah Boyolali.



Selanjutnya...

Senin, 13 Februari 2012

Makam Ki Hajar Saloka


Makam Ki Hajar Saloka terletak di atas sebuat bukit tepatnya di sebelah barat daya Lapangan Desa Samiran Kecamatan Selo, Boyolali. Pada zaman Kerajaan Majapahit, Ki Hajar Saloka termasuk salah seorang senopatinya. Saat menjelang keruntuhan Majapahit Ki Hajar Saloka melarikan diri ke gunung dan sampailah di Gunung Kidul, Wonosari dan mendirikan sebuah


padepokan bernama Padepokan Ki Ajar Saloka, kemudian melanjutkan perjalanan ke pegunungan-pegunungan dan sampailah di sebelah utara Gunung Merapi dan wafatlah beliau.
Ki Hajar Saloka dimakamkan di puncak bukit tersebut dan menjadi cikal bakal makam tersebut. Keanehan yang terjadi menurut cerita para sesepuh Ki Hajar Saloka tidak mau pada pusara tempat ia nantinya disemayamkan diberikan nisan, rumah (cungkup). Namun, beliau makamnya cukup gundukan tanah saja dan menyerupai tumpeng dan keanehan lain pun terjadi walaupun cuma gundukan tanah dari dahulu sampai dengan saat ini makam tersebut tanahnya tidak pernah terkikis habis oleh air hujan





Selanjutnya...

Rabu, 08 Februari 2012

Candi Lawang


Namanya adalah Candi Lawang. Lawang itu bahasa Jawa yang artinya pintu. Lha kenapa disebut seperti itu? Karena candi ini sangat mencolok bentuk pintunya. candi ini adalah susunan batu candi,ada diantaranya yg masih di renovasi. Candi Lawang ini tidak berpenjaga.

Ini adalah candi Hindu abad ke-9 yang menghadap ke arah Barat. Ya bisa karena di bilik utama ada yoni tanpa lingga. Yoninya juga unik karena memiliki saluran berlubang sebagai tempat keluarnya air. Mirip dengan yang di Candi Merak. Di sekeliling candi tidak ditemukan arca maupun relief. Yang ada hanya batu berornamen. Sekitar candi tersebar bebatuan yang belum disusun. Candi ini tepat berada di belakang rumah. Sepertinya keberadaan candi ini sudah diketahui sejak dulu. Satu lagi, candi ini cukup fotogenik.


Butuh perjuangan untuk bisa mencapai candi ini. Letak administratif candi ini ada di Dusun Gedangan, Kec. Cepogo, Kab. Boyolali, Jawa Tengah. Dari Jogja menuju kota Boyolali bisa ditempuh selama 1,5 jam menggunakan sepeda motor. Rute yang paling singkat adalah Jogja-Klaten-Boyolali tanpa perlu melewati Kartasura. Untuk menuju Kec. Cepogo, arahkan kendaraan ke jalur menuju Ketep Pass. Sedangkan untuk menuju Candi Lawang, alangkah baiknya kalau bertanya kepada warga. Walau ada beberapa papan petunjuk arah ke candi, tetap saja kami menghabiskan waktu 30 menit untuk tersasar di Dusun Gedangan. Sekali lagi, tanyalah warga! Jangan segan karena warga disini ramah kepada pendatang.

sumber 


Selanjutnya...

Rabu, 01 Februari 2012

Obyek Wisata Pengging, Boyolali Situs Peninggalan 4 Kerajaan Beken

Kabupaten Boyolali menyimpan satu pesona wisata alam dengan air melimpah. Tepatnya di Pengging, Kecamatan Banyudono. Banyak rahasia sejarah tersimpan di lokasi ini. Pengin tahu ? Simak reportase Anwar Mustafa, Deni Nurindragani dan Sekretaris Redaksi Koran JITU Ardito Yuliadhi yang ingin melihat peradaban luar.

MINGGU pagi,  udara di Obyek Wisata Pengging masih sejuk. Mendung menghalangi sebagian sinar matahari. Tak ada panas terik menyengat hari itu. Selain karena cuaca yang agak mendung, banyaknya pepohonan di Pengging membantu kita bernapas leluasa. Hampir di semua peman dian yang ada di Pengging, pohon besar dan rimbun selalu menjadi ciri khas. Mempertahankan paru-paru bumi yang semakin lama kian susut. Luas areal Obyek Wisata Pengging ini memiliki luas total 2.500 meter persegi. Sebagian besar wilayahnya berada di bawah pengelola an Dinas Pariwisata Pemkab Boyolali.

Secara khusus, Pengging diurus oleh unit pelaksana teknis dinas (UPTD). Sedikitnya terdapat tiga pemandian alam dan satu pemandian buatan yang khusus dipakai untuk anak-anak. Minggu itu, semua pemandian penuh. “Kalau liburan, rata-rata peng unjung 1.000 orang. Selain hari libur, ya sepi. Membeludak sampai 4.000 orang kalau ada momen khusus. Misalnya padusan sebelum puasa Ramadan,” ujar Wali yanto, Kepala UPTD Budaya Ziarah Pengging Dinas Pariwisata Pemkab Boyolali kepada Koran JITU.

 Di obyek wisata yang umum, terdapat tiga pemandian alami, yakni Umbul Ngabean, Temanten dan Dudo. Dulu, di umbul tersebut sering digelar perlombaan musik tradisional ciblon. Musik ini unik. Karena dimainkan tanpa alat musik. Bunyi dihasilkan denga n sebuah teknik tertentu memukul air yang dilakukan sambil mandi. Warga setempat sangat akrab dengan musik ciblon ini. Ada kalanya, sebagai sebuah kebiasaan, tradisi ciblon sambil bermusik ini dilakukan setiap kali mandi di berbagai umbul (sumber air) yang ada di Pengging. “Tetapi sekarang sudah jarang digelar lomba. Tradisi itu sebenarnya bisa menarik wisatawan. Apalagi, sekarang di sini sudah dibangun Amphitheatre. Kalau kebiasaan masyarakat ciblon masih dilakukan,” kata Waliyanto.


Pengging dilengkapi pula dengan wisata kuliner. Yang menjadi unggulan adalah pemancingan. Wisatawan bisa mendapatkan ikan di sini, lalu langsung memasaknya. Kalau malas mancing, ada restoran yang menyediakan berbagai menu cepat saji. Obyek wisata ini juga dekat dengan pasar. Banyak barang kerajinan tradisional khas Boyolali dipasarkan di tempat itu. Pokoknya lengkap. Selain lokasi yang sudah disebutkan di atas, Pengging masih memiliki beberapa pemandian. Namun, fungsinya sedikit berbeda karena lebih mengarah pada wisata ziarah. Yakni Umbul Sungsang, Keputren, Kedhaton dan beberapa sumber air alami lain.


Perbedaannya, umbul- umbul tersebut lebih dikunjungi wisatawan yang mempunyai tujuan ziarah. “Mereka ini datangnya malam hari. Biasanya di atas pukul 23.00. Hampir setiap malam ada peziarah datang. Paling ramai kalau Jumat yang jatuh di hari pasaran Jawa Pahing. Kalau siang seperti ini, jarang. ,” beber Waliyanto. Para peziarah tersebut memang tak salah jika berkunjung ke Pengging dengan berbagai peninggalannya. Kerajaan Majapahit misalnya. Di salah satu sudut Obyek Wisata Pengging ada makam Dyah Ayu Retno Kedhaton, putri Prabu Brawijaya. Lalu, ada makam Kebo Kenanga.

 Selain itu, ada juga orang penting bernama Handayaningrat, orang yang pernah berada di Kerajaan Mataram. Tidak hanya pejabat kerajaan saja yang dimakamkan di Pengging. Yosodipura I juga beristirahat terakhir di Pengging dan menjadi salah satu ikon wisata ziarah di tempat ini. Tidak sulit mencapai seluruh lokasi tersebut. Jaraknya masing- masing umbul dan makam para tokoh sejarah berdekatan. Hanya ratusan meter dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Sekaligus, menikmati hawa bersih Pengging, di Kecamatan Banyudono, Boyolali.


Sumber: Koran Jitu



Selanjutnya...