• Selama tiga kali pasaran terakhir, harga penjualan sapi di Pasar Hewan Sunggingan, Boyolali mengalami penurunan Rp 500.000 – Rp1 juta tiap ekor.
  • Revitalisasi Umbul Tirtomulyo di Dusun Umbul, Kemasan, Sawit, Boyolali, tahap pertama sudah berjalan 60%.
  • Sebanyak 10 orang siswa dari OSIS SMK Ganesha Tama dan SMK Muhammadiyah 4 mengadakan kerja bakti membersihkan coretan di dinding bagian depan Taman Sono Kridanggo dan BPD Boyolali.
  • Menghadapi musim penghujan yang intensitasnya mulai tinggi, BPBD Boyolali melakukan pemetaan daerah rawan bencana alam.

Rabu, 28 Maret 2012

Ditemukan Situs Purbakala Baru di Pulisen

Warga Kampung Watutelenan, Kelurahan Pulisen, Kecamatan Boyolali Kota, Boyolali dihebohkan dengan penemuan batu diduga sebuah candi di ladang milik warga bernama Suranto. Batu tersebut saat ini menjadi tontonan warga sekitar.

Warga sekitar lokasi menduga batu bentuk mirip dengan kepala nisan pada makam etnis Cina merupakan peninggalan jaman dahulu. Sepintas batu berukuran lebar 1,5 meter tersebut dengan kedalaman 1,5 meter terdapat dua tingakatan. Pada tingkat pertama bentuk segitiga, tingkat kedua lebih datar dan pada bagian bawah belum tampak.

Menurut pemilik tanah, Suranto,batu yang terlihat bagian atas tersebut, sudah diketahui sejak lima tahun lalu. “kita tahunnya sudah lima tahun lalu,tapi hanya terlihat sedikit, setelah kita gali, mau kita ambil, ternyata bentuknya seperti candi, sementara kita hentikan dulu,” papar Suranto saat ditemui di lokasi, Senin (26/3).

Penggalian tersebut dilakukan awalnya untuk mengambil batu-batuan di lokasi yang hendak dijadikan bahan bangunan. Untuk sementara pemilik tanah menghentikan penggalian menunggu pengecekan dari instansi terkait, yaitu Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Boyolali.

Sebelumnya, di kampung tersebut juga ditemukan batu mirip candi, yang kemudian menjadikan kampung tersebut diberi nama Watutelenan. Saat ini banyak warga yang merasa penasaran dengan keberadaan batu aneh tersebut. Lokasi ditemukan batu menjadi tontonan warga.



Kini penemuan batu tersebut mendapat perhatian khusus dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Boyolali. Sampai sekarang pihak Disparbud belum bisa menentukan nilai sejarah batu itu. Kepala Disparbud, Sugiyanto menyatakan sudah menurunkan tim untuk meneliti batu tersebut. Untuk kepastian lebih lanjiut pihaknya siap berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah. Karena  untuk mementukan  kepurbakalaan temuan membutuhkan penelitian lebih detail dari BP3. Andai batu tersebut dinyatakan sebagai benda purbakala, pihaknya siap mengangkat batu itu dari ladang pemilik, Suranto.




Artikel Terkait