Kamis, 05 April 2012

Menengok Pesanggrahan Paku Buwono X Di Cepogo, Boyolali

Salah satu raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, SISKS Paku Buwono X yang baru saja memperoleh gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah, banyak membangun berbagai bangunan yang hingga kini masih bisa kita saksikan. Namun sayangnya, ada sejumlah bangunan yang kini rusak dan tak terawat, meski sebenarnya memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.
Salah satunya adalah pesanggrahan di Desa Paras, Kecamatan Cepogo. Kondisi pesanggrahan Pratjimohardjo itu kini rusak berat. Padahal, bangunan ini merupakan salah satu tempat bersejarah. Bukan hanya sejarah tentang Keraton Surakarta melainkan juga perjuangan pahlawan nasional Slamet Riyadi.
“Dahulu kala memang masih utuh. Namun, sejak agresi militer zaman Belanda dulu pesanggrahan ini dibakar oleh tentara Indonesia. Tujuannya agar tidak digunakan oleh Belanda,” ujar seorang abdi dalem keraton, Partiyah yang diberi tugas sebagai penjaga saat ditemui wartawan, bersama suaminya, Mulyanto.
Partiyah menuturkan Tentara Pembela Tanah Air (Peta) yang dipimpin oleh Slamet Riyadi pernah menjadikan pesanggrahan tersebut sebagai markas. Akan tetapi, saat agresi militer Belanda pada tahun 1949 kompleks itu dibakar karena dikhawatirkan markas tersebut direbut oleh Belanda.
Pesanggrahan yang kini tinggal bekas bangunan dan puing-puing ini konon dulunya sangat megah. Saking mewahnya bahkan sampai seperti miniatur istana keraton. Selain dilengkapi dengan halaman luas yang luas, juga ada pendapa, tamansari dan dalem ageng yang sering digunakan oleh Sinuhun Paku Buwono X untuk tetirah.
Tempat yang biasa digunakan untuk beristirahat sang raja itu kini tinggal puingnya saja. Bekas bangunan itu banyak ditumbuhi oleh tanaman liar seperti rerumputan. “Dulu katanya dari Pemkab mau ada semacam perbaikan. Akan tetapi, hingga kini belum juga diperbaiki. Kami pun menjaganya ala kadarnya,” imbuhnya.
Partiyah bersama suami masih mendapatkan jatah dari keraton untuk merawat dan mengurusi pesanggrahan ini. Akan tetapi, jumlah yang diberikan memang tak sebanding dengan tanggung jawab yang dipikul keduanya. Mereka menjaga pesanggrahan ini turun-temurun sebagai bentuk pengabdian kepada pihak keraton. Sesekali pesanggrahan ini masih didatangi pengunjung. Mereka yang datang dengan berbagai maksud. Namun, pada umumnya mereka hendak tetirah. Ia berharap ada perhatian lebih dari Pemkab untuk melestarikan peninggalan sejarah yang istimewa itu.

Sumber: solopos.com


Artikel Terkait