• Selama tiga kali pasaran terakhir, harga penjualan sapi di Pasar Hewan Sunggingan, Boyolali mengalami penurunan Rp 500.000 – Rp1 juta tiap ekor.
  • Revitalisasi Umbul Tirtomulyo di Dusun Umbul, Kemasan, Sawit, Boyolali, tahap pertama sudah berjalan 60%.
  • Sebanyak 10 orang siswa dari OSIS SMK Ganesha Tama dan SMK Muhammadiyah 4 mengadakan kerja bakti membersihkan coretan di dinding bagian depan Taman Sono Kridanggo dan BPD Boyolali.
  • Menghadapi musim penghujan yang intensitasnya mulai tinggi, BPBD Boyolali melakukan pemetaan daerah rawan bencana alam.
Tampilkan postingan dengan label ampel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ampel. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Desember 2012

Profil Kecamatan: Ampel

Lokasi Kecamatan Ampel


Ampel adalah sebuah kecamatan di Kabupaten BoyolaliJawa Tengah. Kantor kecamatan Ampel terletak di pinggir jalan raya Solo-Semarang. Atau, antara kota Boyolali dan Salatiga.

Kecamatan Ampel terletak pada ketinggian 520 1.840 meter diatas permukaan air laut ( mpdl ), dan memiliki temperatur udara rata-rata antara 26C 30C. Curah hujan tertinggi muncul antara bulan Desember Maret, berkisar antara 300 350 mm per bulan, sehingga pada bulan-bulan tersebut perlu diwaspadai desa-desa yang berada di lereng Gunung Merbabu karena rawan terjadi tanah longsor. Desa-desa tersebut yaitu Jlarem, Sampetan, Ngadirojo, Ngargoloko, Candisari dan Ngagrong. Pada waktu musim kemarau 6 desa tersebut juga harus extra hati-hati karena juga rawan terhadap bencana kebakaran.

Ampel terkenal karena abon. Abon adalah makanan kering dari daging sapi. Pasar sapi di Ampel cukup besar. Ramai pada hari Kliwon. Sapi dan daging sapi banyak dikirim ke Jakarta dan Yogya.


Camat: Hendrayanto BL, S.Sos (2010)
Alamat Kantor Kecamatan: Jl. Gladagsari, Ampel


Batas Wilayah:

  • Sebelah Utara : Kabupaten Semarang
  • Sebelah Selatan : Kabupaten Semarang
  • Sebelah Timur : Kecamatan Cepogo
  • Sebelah Barat : Kecamatan Selo, Kabupaten Magelang
Kelurahan di Ampel:
1. Banyuanyar (Kode Pos: 57352)
2. Candi (Kode Pos: 57352)
3. Candisari (Kode Pos: 57352)
4. Gladagsari (Kode Pos: 57352)
5. Gondang Slamet (Kode Pos: 57352)
6. Jlarem (Kode Pos: 57352)
7. Kali Gentong (Kode Pos: 57352)
8. Kembang (Kode Pos: 57352)
9. Ngadirojo (Kode Pos: 57352)
10. Ngagrong (Kode Pos: 57352)
11. Ngampon (Kode Pos: 57352)
12. Ngargoloko (Kode Pos: 57352)
13. Ngargosari (Kode Pos: 57352)
14. Ngenden (Kode Pos: 57352)
15. Sampetan (Kode Pos: 57352)
16. Seboto (Kode Pos: 57352)
17. Selodoko (Kode Pos: 57352)
18. Sidomulyo (Kode Pos: 57316)
19. Tanduk (Kode Pos: 57352)
20. Urut Sewu (Kode Pos: 57352)

Nomer Telepon Penting:

1. Polsek Ampel  – No. Telp. (0276)  331 137
2. Kecamatan Ampel  – No. Telp. (0276) 331 345

Sumber: Wikipedia. google


Selanjutnya...

Jumat, 07 Desember 2012

Ngalap Berkah, Ritual Buka Luwur di Pantaran

Pengunjung bebas menikmati makanan yang disajikan di ritual Buka Luwur
di Pantaran, Ampel.
Tradisi Buka Luwur di Makam Syech Maulana Malik Magribi Pantaran Ampel Boyolali, Jumat (7/12), seperti tahun-tahun sebelumnya selalu ramai dikunjungi masyarakat. Baik yang datang dari wilayah Boyolali maupun luar kota seperti Salatiga, Semarang, Klaten dan Wonogiri. Masyarakat yang datang dalam tradisi turun temurun tersebut ngalap berkah di makam salah satu penyiar agama islam di Lereng Merbabu.
Tradisi Buka Luwur atau kelambu penutup Makam Syech Maulana Malik Magribi digelar tiap Jumat Kliwon bulan syuro, sebelumnya dilakukan kirab tumpeng dan hasil bumi dari rumah tokoh masyarakat setempat menuju ke makam. Setelah di makam di lakukan doa bersama, dzikir, baru kain lurup di makam Syech Maulana diganti.
Sementara selama prosesi berlangsung, masyarakat sekitar yang datang ke lokasi membawa makanan yang ditaruh dalam tenong atau wadah bambu. Beragam makanan tersebut nantinya dibagikan kepada pengunjung. Setiap pengunjung yang ada dilokasi makam bebas menikmati makanan yang disediakan warga. Mereka bahkan ada yang membawa pulang.
“Iya tadi minta sama warga, ini saya bawa pulang, nanti saya taruh di sawah saya, biar panen berhasil,” ungkap Sutarno, warga Salatiga, yang sengaja datang ke ritual buka luwur untuk ngalap berkah agar panenanya berhasil.
Masyarakat luar yang datang ke lokasi, mempercayai makanan dan kain lurup yang dibagikan akan mendatangkan berkah tersendiri. Bahkan untuk mendapatkan itu semua, beberapa diantaranya sudah menginap di komplek makam yang berada di Lereng Gunung Merbabu.
Disisi lain, Assisten 2 Pemkab Boyolali, Juwaris, mengaku selain tradisi turun temurun, buka luwur ini sekaligus digunakan untuk mempersatu persaudaraan diantara warga.

Sumber: timlo.net


Selanjutnya...

Selasa, 13 November 2012

Teh Tiongke, Potensi Boyolali yang Belum Tergarap

Teh Tiongke
Desa Jlaren, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali memiliki potensi alam yang sangat hebat. Salah satunya adalah Teh Tiongke. Teh ini dikenal sejak jaman penjajahan Jepang. Teh Tiongke dibuat langsung dari daun yang masih segar. Pengolahanya pun masih sangat sederhana. Meski begitu, manfaat di dalamnya sangat besar.
Salah satu manfaat yang saat ini dipercayai warga sekitar yakni Teh Tiongke bisa untuk menambah dan meningkatkan stamina usai melakukan aktivitas. Karena manfaatnya tersebut, warga Jlarem yang rata-rata adalah petani hingga saat ini masih mengkonsumsinya usai dari ladang.
“Kalau habis dari ladang, sampai di rumah pasti minum Teh Tiongke, cukup diseduh dengan air panas dan diminum dengan mengunyah gula Jawa, badan jadi segar kembali,” ungkap Wiryono, warga Jlarem.
Dinamakan Teh Tiongke, karena saat memetik daun teh yang batang pohonnya tinggi dilakukan dengan meniungkan dahan yang tinggi dengan tangan. Baru kemudian, pucuk daun-daun muda dipetik. Sementara untuk pengolahanya masih sangat sederhana, daun yang telah dipetik di sangrai diatas wajan dari tanah. Setelah agak layu, daun teh diangkat dan dipilin-pilin menjadi kecil. Setelah itu kembali disangrai hingga kering.
Sayangnya, potensi alam tersebut belum mendapat respon dari pemerintah setempat. Hal tersebut diakui salah satu anggota DPRD Boyolali asal Ampel, Dwi Adi. Menurutnya, pemerintah atau instansi terkait harusnya tanggap dengan potensi tersebut. Terlebih dengan maraknya pengobatan herbal yang saat ini menjamur,peluang tersebut mestinya bisa diraih.
“Itulah, potensi yang sangat besar ini kurang mendapat respons, padahal Teh Tiongke banyak sekali manfaatnya,” tandas Dwi Adi ditemui di Gedung Dewan.

Sumber: timlo.net


Selanjutnya...

Minggu, 05 Agustus 2012

Satlantas Siapkan Jalur Alternatif Untuk Pemudik

Rambu penunjuk arah disiapkan Satlantas Polres Boyolali
untuk memudahkan para pemudik.
Satlantas Polres Boyolali menyiapkan sejumlah titik jalur alternatif jelang arus mudik Lebaran 2012 ini. Beberapa titik itu antara lain, arah Sruwen (Salatiga) ke Karanggede, Kebon Jeruk (Ampel), Surowedanan (Boyolali Kota) dan Bangak (Banyudono).
Kasatlantas Polres Boyolali AKP Sugino mengatakan, pada beberapa jalur alternatif ini bakal diberi rambu-rambu penunjuk arah. Hal ini dilakukan agar para pemudik tidak tersesat. “Sebanyak 40 rambu penunjuk arah kami siapkan. Selain itu, ada barikade sepanjang 400 meter. Barikade tersebut terbuat ada yang dari pipa besi serta bambu,” ujarnya.
Ia menambahkan, barikade dipasang mulai dari perbatasan Ampel dan Sruwen hingga Kebon Jeruk (Ampel). Ia berharap, kendaraan yang melintas dari arah berlawanan semakin tertib. Pihaknya juga menyiapkan tujuh rambu penutupan dan pengalihan arus. Rambu ini akan dipasang di beberapa titik. Yakni, di Bangak (Banyudono), Surowedanan (Boyolali Kota), Kebon Jeruk (Ampel), Tlatar dan perempatan terminal (Boyolali Kota). “Rambu-rambu ini sudah ada yang kita pasang. Kita juga akan bekerja sama dengan Polres Semarang. Hal ini untuk penanganan jika sampai terjadi kemacetan arus lalulintas,” imbuhnya.
Pasalnya, dari pengalaman Lebaran sebelumnya, saat arus balik terjadi kemacetan hingga ke wilayah Boyolali Kota.Di samping itu, Satlantas juga akan mendirikan Pospam gabungan di perbatasan Boyolali dan Kabupaten Semarang, yakni di Sruwen. Selain itu, ada Pospam terpadu sebanyak lima buah. Antara lain, di Ampel, depan terminal bus Boyolali, depan Pasar Boyolali Kota, pertigaan Bangak (Banyudono) dan Karanggede. Menurutnya, pospam di terminal juga difungsikan sebagai pos pelayanan. Pos ini dilengkapi dengan MCK, tempat istirahat dan mobil derek.

Sumber: solopos.com

Selanjutnya...

Jumat, 03 Agustus 2012

Rawan Kecelakaan Lalu-lintas, 6 Bottle Neck di Boyolali Wajib Diwaspadai

Di setiap penyempitan jalur diberi tanda peringatan.
 Para pemudik yang melintas di wilayah Boyolali dihimbau untuk berhati-hati dengan kondisi jalan. Terutama pada jalur yang mengalami penyempitan atau bottle neck. Untuk tahun ini, jumlah bottle neck di Boyolali mengalami peningkatan akibat pelebaran jalan. Jumlah bottle neck yang terdata satlantas Polres Boyolali terdapat enam buah.
Bottle neck ini ditemui dari Terminal Boyolali hingga Ampel, atau di setiap jembatan yang ada. Penyempitan jalan ini akibat proyek pelebaran jalan yang saat ini sedang berlangsung. Sebelumnya, Boyolali hanya memiliki satu bottle neck yaitu di pertigaan Ngangkruk Banyudono. Hanya saja, pelebaran jalan di lokasi tersebut kondisi jalan sudah lebih lebar.
Bottle neck ini akan sangat berbahaya bila tidak diketahui pengguna jalan, apalagi bagi pengguna jalan yang baru pertama kali melintas di wilayah kami,makanya kita meminta pihak proyek untuk memasang tanda atau rambu di lokasi bottle neck,” ungkap Kasat Lantas AKP Sugino, Jumat (3/8).
Selain itu, kondisi jalan dari perbatasan Sruwen-Ampel hingga Penggung Boyolali Kota, lebih banyak tanjakan, turunan dan tikungan, sehingga rawan laka. Wilayah Boyolali merupakan titik lelah bagi pemudik. Pihaknya menyarankan bagi pemudik yang kelelahan untuk berhenti dan beristirahat di pos-pos yang telah disiapkan.

Sumber: timlo.net


Selanjutnya...

Selasa, 15 Mei 2012

Prof Dr Soeharso, Pejuang Kemanusiaan

Prof Dr Soeharso.

Tim SAR dan relawan kemanusiaan dalam jumlah ribuan bekerja keras menangani evakuasi korban Sukhoi di Gunung Salak. Sungguh mulia tugas kemanusiaan yang dijalani para relawan ini. Menembus hutan siang dan malam, mereka tak lelah berupaya mengevakuasi jenazah korban Sukhoi.

Aksi mereka menunjukkan bahwa spirit kemanusiaan tidak pernah padam dari bumi Indonesia. Spirit yang sudah muncul sejak masa perjuangan. Bicara spirit dan pengabdian kemanusiaan, publik Indonesia tidak akan pernah lupa pada jasa Prof dr Soeharso. Minggu (13/5) kemarin, tepat 100 tahun Prof Soeharso, salah satu pejuang dan pahlawan kemanusiaan terbaik yang pernah dilahirkan bangsa ini.

Prof Dr Soeharso lahir di Boyolali pada tanggal 13 Mei 1912. Dia lulus dari NIAS (Nederland Indische Artsen School) di Surabaya dilanjutkan bekerja di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Surabaya. Soeharso lantas dipindahkan ke Sambas (Kalimantan Barat).

Pada awal pendudukan Jepang, Soeharso termasuk dalam daftar orang-orang terpelajar Indonesia yang harus disingkirkan. Soeharso pun meninggalkan Kalimantan kembali ke Jawa. Dia bekerja di Rumah Sakit Jebres, Solo.

Pada masa perang kemerdekaan, Soeharso banyak membantu para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan dengan menjadi dokter PMI. Inilah awal munculnya niat mulia Soeharso untuk membantu korban perang.

Soeharso membantu menolong para pejuang yang cacat fisik. Awalnya, yang ditolong hanyalah korban perang tetapi meluas hingga ke masyarakat umum.

Dia membuat kaki dan tangan palsu untuk mengurangi beban penderita cacat. Selepas perang kemerdekaan, dia belajar ilmu prothesa (ilmu tentang bahan yang dapat diterima manusia) di Inggris. Sekembalinya dari Inggris, dia mendirikan pusat rehabilitasi (RC) di Solo yang hingga sekarang masih berdiri sebagai rujukan nasional. Dia juga salah satu pakar orthopaedi (bedah tulang) di Indonesia.





Berkat ketulusan perjuangan kemanusiaannya, negara menganugerahi Soeharso gelar pahlawan nasional. Dia meninggal 27 Februari 1971 dan dimakamkan di Dukuh Seboto, Desa Seboto, kecamatan Ampel, Boyolali. Makamnya ini agak jauh masuk ke dalam desa dari jalan raya Solo-Semarang.

Meskipun bergelar pahlawan nasional, tempat peristirahatan terakhirnya sangat sederhana. Jalan menuju pemakaman itu sudah rusak aspalnya di beberapa titik.



Selain rumah sakit dan nama jalan di Solo, Prof Soeharso juga diabadikan untuk nama kapal perang milik TNI AL. Kini, di Solo, putra Prof Soeharso yaitu dr Tunjung menjadi penerus perjuangan kemanusiaan ayahandanya sebagai pakar ortophaedi.







Sumber: merdeka.com





Selanjutnya...