• Selama tiga kali pasaran terakhir, harga penjualan sapi di Pasar Hewan Sunggingan, Boyolali mengalami penurunan Rp 500.000 – Rp1 juta tiap ekor.
  • Revitalisasi Umbul Tirtomulyo di Dusun Umbul, Kemasan, Sawit, Boyolali, tahap pertama sudah berjalan 60%.
  • Sebanyak 10 orang siswa dari OSIS SMK Ganesha Tama dan SMK Muhammadiyah 4 mengadakan kerja bakti membersihkan coretan di dinding bagian depan Taman Sono Kridanggo dan BPD Boyolali.
  • Menghadapi musim penghujan yang intensitasnya mulai tinggi, BPBD Boyolali melakukan pemetaan daerah rawan bencana alam.
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 April 2012

#BylFoto: Temuan Batu Bersejarah di Watutelenan




Sebuah batu berbentuk unik ditemukan warga di Kampung Watutelenan RT 007/RW 008, Kelurahan Pulisen, Kecamatan Boyolali Kota, Boyolali. Warga tidak berani mengutak-atik batu tersebut karena memperkirakan benda bersejarah.

Batu tersebut kali pertama ditemukan oleh pemilik lahan, Slamet Harso Dinomo, 76. Saat itu dia dia bermaksud mengambil batu-batu besar yang terpendam di dalam tanah. Di salah satu bagian kebun tersebut, dia mendapati batu yang mencuat dari tanah. Slamet kemudian memutuskan menggali tanah di sekitar batu itu.

Dan berikut adalah beberapa foto batu tersebut yang Ibo ambil dari berbagai sumber:


















Sumber: solopos, timlo.net.



Selanjutnya...

Rabu, 28 Maret 2012

Ditemukan Situs Purbakala Baru di Pulisen

Warga Kampung Watutelenan, Kelurahan Pulisen, Kecamatan Boyolali Kota, Boyolali dihebohkan dengan penemuan batu diduga sebuah candi di ladang milik warga bernama Suranto. Batu tersebut saat ini menjadi tontonan warga sekitar.

Warga sekitar lokasi menduga batu bentuk mirip dengan kepala nisan pada makam etnis Cina merupakan peninggalan jaman dahulu. Sepintas batu berukuran lebar 1,5 meter tersebut dengan kedalaman 1,5 meter terdapat dua tingakatan. Pada tingkat pertama bentuk segitiga, tingkat kedua lebih datar dan pada bagian bawah belum tampak.

Menurut pemilik tanah, Suranto,batu yang terlihat bagian atas tersebut, sudah diketahui sejak lima tahun lalu. “kita tahunnya sudah lima tahun lalu,tapi hanya terlihat sedikit, setelah kita gali, mau kita ambil, ternyata bentuknya seperti candi, sementara kita hentikan dulu,” papar Suranto saat ditemui di lokasi, Senin (26/3).

Penggalian tersebut dilakukan awalnya untuk mengambil batu-batuan di lokasi yang hendak dijadikan bahan bangunan. Untuk sementara pemilik tanah menghentikan penggalian menunggu pengecekan dari instansi terkait, yaitu Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Boyolali.

Sebelumnya, di kampung tersebut juga ditemukan batu mirip candi, yang kemudian menjadikan kampung tersebut diberi nama Watutelenan. Saat ini banyak warga yang merasa penasaran dengan keberadaan batu aneh tersebut. Lokasi ditemukan batu menjadi tontonan warga.



Kini penemuan batu tersebut mendapat perhatian khusus dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Boyolali. Sampai sekarang pihak Disparbud belum bisa menentukan nilai sejarah batu itu. Kepala Disparbud, Sugiyanto menyatakan sudah menurunkan tim untuk meneliti batu tersebut. Untuk kepastian lebih lanjiut pihaknya siap berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah. Karena  untuk mementukan  kepurbakalaan temuan membutuhkan penelitian lebih detail dari BP3. Andai batu tersebut dinyatakan sebagai benda purbakala, pihaknya siap mengangkat batu itu dari ladang pemilik, Suranto.




Selanjutnya...

Senin, 30 Januari 2012

Sejarah Kabupaten Boyolali



Asal mula nama BOYOLALI menurut cerita serat Babad Pengging Serat Mataram, nama BOYOLALI tak disebutkan. Demikian juga pada masa Kerajaan Demak Bintoro maupun Kerajaan Pengging, nama Boyolali belum dikenal. Dalam Menurut legenda nama BOYOLALI berhubungan dengan ceritera Ki Ageng Pandan Arang (Bupati Semarang pada abad XVI ). 

Alkisah, Ki Ageng Pandan Arang yang lebih dikenal dengan Tumenggung Notoprojo diramalkan oleh Sunan Kalijogo sebagai Wali penutup menggantikan Syeh Siti Jenar. Oleh Sunan Kalijogo, Ki Ageng Pandan Arang diutus untuk menuju ke Gunung Jabalakat di Tembayat (Klaten) untuk syiar agama Islam. Dalam perjalananannya dari Semarang menuju Tembayat Ki Ageng banyak menemui rintangan dan batu sandungan sebagai ujian. Ki Ageng berjalan cukup jauh meninggalkan anak dan istri ketika berada di sebuah hutan belantara beliau dirampok oleh tiga orang yang mengira beliau membawa harta benda ternyata dugaan itu keliru maka tempat inilah sekarang dikenal dengan nama SALATIGA.

Perjalanan diteruskan hingga sampailah disuatu tempat yang banyak pohon bambu kuning atau bambu Ampel dan tempat inilah sekarang dikenal dengan nama Ampel yang merupakan salah satu kecamatan di Boyolali. Dalam menempuh perjalanan yang jauh ini, Ki Ageng Pandan Arang semakin meninggalkan anak dan istri. Sambil menunggu mereka, Ki Ageng Beristirahat di sebuah Batu Besar yang berada di tengah sungai. Dalam istirahatnya Ki Ageng Berucap “ BAYAWIS LALI WONG IKI” yang dalam bahasa Indonesia artinya “Sudah lupakah orang ini”.

Dari kata Baya Wis Lali, maka jadilah nama BOYOLALI. Batu besar yang berada di Kali Pepe yang membelah kota Boyolali mungkinkah ini tempat beristirahat Ki Ageng Pandan Arang. Mungkin tak ada yang bisa menjawab dan sampai sekarang pun belum pernah ada meneliti tentang keberadaan batu ini.Demikian juga sebuah batu yang cukup besar yang berada di depan Pasar Sunggingan Boyolali, konon menurut masyarakat setempat batu ini dulu adalah tempat untuk beristirahat Nyi Ageng Pandan Arang. Dalam istirahatnya Nyi Ageng mengetuk-ngetukan tongkatnya di batu ini dan batu ini menjadi berlekuk-lekuk mirip sebuah dakon (mainan anak-anak tempo dulu). Karena batu ini mirip dakon, masyarakat disekitar Pasar Sunggingan menyebutnya mBah Dakon dan hingga sekarang batu ini dikeramatkan oleh penduduk dan merekapun tak ada yang berani mengusiknya.


Penetapan Hari Jadi Kabupaten Boyolali tidaklah mudah. Untuk menetapkan hari jadi yangs elalu diperingati setiap tanggal 5 pada bulan Juni memakan waktu yang cukup lama dan perlu penelusuran sejarah yang panjang. Penetapan Hari Jadi Kabupaten Boyolali sebelumnya telah dilakukan penelitian oleh Lembaga Penelitian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penelitian ini didasarkan atas Surat Perjanjian Kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Boyolali dengan dengan Lembaga Penelitian UNS pada 11 September 1981. Setelah melakukan penelusuran sejarah, selanjutnya pada 23 Pebruari 1982 di Gedung DPRD Kabupaten Boyolali diselenggarakan seminar tentang SEJARAH HARI JADI KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BOYOLALI. Dalam seminar ini telah disimpulkan tanggal 5 Juni 1847 merupakan Hari Jadi Kabupaten Boyolali.

Selanjutnya melalui Rapat Paripurna DPRD pada tanggal 13 Maret1982 telah ditetapkan Peraturan Daerah Tingkat II Kabupaten Boyolali Nomor 3 Tahun 1982 tentang Sejarah dan Hari Jadi Kabupaten Boyolali. Perda tersebut telah diundangkan melalui Lembaran Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Boyolali pada tanggal 22 Maret 1982 Nomor 5 Tahun 1982 Seri D Nomor 3


Sumber



Selanjutnya...