• Selama tiga kali pasaran terakhir, harga penjualan sapi di Pasar Hewan Sunggingan, Boyolali mengalami penurunan Rp 500.000 – Rp1 juta tiap ekor.
  • Revitalisasi Umbul Tirtomulyo di Dusun Umbul, Kemasan, Sawit, Boyolali, tahap pertama sudah berjalan 60%.
  • Sebanyak 10 orang siswa dari OSIS SMK Ganesha Tama dan SMK Muhammadiyah 4 mengadakan kerja bakti membersihkan coretan di dinding bagian depan Taman Sono Kridanggo dan BPD Boyolali.
  • Menghadapi musim penghujan yang intensitasnya mulai tinggi, BPBD Boyolali melakukan pemetaan daerah rawan bencana alam.

Rabu, 20 Juni 2012

534 Ha Sawah Irigasi Beralih Jadi Tadah Hujan


Sawah irigasi teknis seluas 534 ha di Kecamatan Andong, Boyolali, beralih fungsi menjadi lahan tadah hujan. Hal itu disebabkan sumber irigasi, yakni Waduk Bade di Kecamatan Klego, Boyolali, mengalami degradasi fungsi.
Tak mumpuninya debet air dan tersendatnya saluran induk serta sekunder, menyebabkan air tak menjangkau daerah lahan yang dimaksud. “Daerah irigasi di Klego 407,5 ha dan 945,5 ha di Andong. Namun sawah di Kunti, Pranggong, Pakang dan Andong sudah beralih fungsi menjadi sawah tadah hujan karena berbagai masalah terjadi di Waduk Bade. Itu sudah terjadi saat saya ditempatkan disana, enam tahun lalu,” kata Koordinator Perwakilan Balai Wilayah Cemoro pada Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Bengawan Solo, Waluyo, saat ditemui Solopos.com di Jl Monginsidi No 74, Solo, Rabu (20/6/2012).
Sesuai spesifikasi, tambah Waluyo, idealnya waduk itu mampu menyuplai kebutuhan air lahan pertanian seluas 1.353 ha di Kecamatan Andong dan Klego. Lahan itu adalah empat desa di Klego, yakni Bade, Banyu Urip, Sumberagung dan Karangmojo serta tujuh desa di Andong. Tujuh desa itu adalah Semawung, Kadipaten, Munggur, Kunti, Pranggong, Pakang dan Desa Andong.
Sejauh ini, lanjut dia, Waduk Bade mengandalkan aliran Kali Serang dan suplesi dari Bendung Parean, Susukan, Semarang. Namun, lebih banyak suplai waduk itu didapat dari Kali Serang. Debet air harian 840 liter/detik mayoritas dari Serang dan aliran-aliran kecil di sekitar waduk.
Sementara Parean hanya menyumbang debet 150 liter/detik karena 463 liter/detik mereka pakai untuk daerahnya sendiri. Ditambah kebocoran di saluran induk dan penguapan, kapasitas itu sudah bergeser dari spesifikasi awal.
Untuk itu, dia mengacu standar pengiritan distribusi air. Lazimnya, petugas menuruti permintaan petani atau amrah yang telah disetujui UPTD Pekerjaan Umum di Boyolali. “Jadi sistem bergilir. Mekanisme ini jalan tengah dalam rangka pengiritan,” paparnya.
Dari mekanisme itu, Waluyo menegaskan pola tanam padi-padi-palawija, mustahil dilakukan di lahan-lahan itu. Bahkan, hanya 25 hektar sawah di dekat waduk itu yang menikmati aliran air musim tanam (MT) III. “Dalam kondisi sekarang, hanya 25 ha pasokan air di sekitar waduk untuk MT III,” imbuh Pengelola Waduk dan Irigasi disana, Marji.


Sumber: solopos.com


Artikel Terkait